Agen Poker Indonesia - Pembaca yang budiman, kisah ini adalah setengah nyata, jika ada kesamaan
nama maupun tempat pasti hanya kebetulan saja. Tanggung jawabku sebagai
seorang Shipping Manajer menyebabkan aku punya banyak relasi bisnis
dari perusahaan perusahaan pelayaran maupun perusahaan angkutan lainnya.
Namun ada satu rekanan bisnisku yang akan kuceritakan dalam kisah ini.
Sebut saja Susi, begitu nama sales executive dari sebuah pelayaran di
kota S, bertinggi badan kurang lebih 165 cm, dengan postur tubuh
proporsional dan busung dada 36. Hidungnya mancung dan rambut hitam ikal
sebahu.
Perusahaannya memang bonafide, sehingga beberapa pekerjaan
skala besar dapat terkirimkan dengan baik. Jujur saja dalam hati kecil
ini juga kagum pada kecantikan Susi dan sebagai lelaki normal yach
secara tak sengaja melihat sisi dalam pahanya saat disilangkan yang
membuat seonggok daging kenyal disela- sela pahaku, “unjuk diri”.
Sebagai relasi yang baik Susi terkadang mengajak lunch di luar
ataupun hanya memberiku cindera mata atau selepas kerja kami nongkrong
di kafe musik. Pada saat itulah Susi bertanya banyak tentang diriku dan
kujawab semua dengan benar, aku memang suka berterus terang termasuk
keadaan diriku yang sudah berkeluarga yang mempunyai 2 anak ,5 tahun dan
istriku sedang mengandung 8 bulan.
Akhirnya aku pun tahu bahwa Susi
adalah menjadi simpanan boss- nya bule asal Amerika yang bernama
Richard, namun kini telah meninggalkan Indonesia karena sudah diganti
oleh GM baru asal Indonesia.
Mata Susi tampak menerawang jauh dan angannya terbang
ke Amerika sana namun dia tersadar itu tak mungkin lagi menikmati
kebersamaan mereka lagi. Tepat liburan umum di bulan Januari lalu Susi
meneleponku dan mengajak ke Batu, katanya sich dalam rangka merayakan
ultahnya yang ke-29 dan untuk menemaninya (biasanya Susi menghabiskan
weekend di sana bersama Richard).
“Mas Sony mau nggak temenin aku ke Batu nanti di acara ultah-ku?” tanya Susi di telepon.
“Emang acaranya apaan?” tanyaku.
“Emang acaranya apaan?” tanyaku.
“Ah.. udah dech pokoknya temenin aku yach, please..” rengeknya setegah memohon.
“Ini khan ultah-ku yang ke-29, please Mas Bram please.. kali ini saja!” pintanya.
“Ini khan ultah-ku yang ke-29, please Mas Bram please.. kali ini saja!” pintanya.
Lelaki mana yang sanggup menolak kamu Sus, wajahmu yang cantik, bodi
kamu punya, bibir tipis nan sensual waah segalanya deh, bathinku dalam
hati. Aku tersadar saat Susi menyambung pembicaraannya lagi.
“Atau aku mesti bilang ke Mbak Santi istri Mas..” imbuhnya.
“Ngg.. nggak usah dech, oke.. oke..” Buru-buru aku menyergahnya.
“Ngg.. nggak usah dech, oke.. oke..” Buru-buru aku menyergahnya.
Sabtu malam ini kami ngobrol berdua dengan istriku dan aku bohong
padanya kalau aku besok malam harus menemani tamu Technical Advisor-ku
dari Jepang termasuk mencarikan hiburan buat tamuku juga.
Sabtu pagi aku
berpamitan pada istriku dan memacu Capella kesayanganku ke arah Malang,
aku sendiri sekarang tinggal di Gresik. Namun sebelum itu aku menjemput
Susi di rumah kontrakannya di kawasan Surabaya Barat.
Selang lima menit
aku pencet bel keluarlah Susi mengenakan stelan span deep marine dan
atas you can see biru muda, sebuah pemandangan yang amat serasi dan
indah.
Sepanjang perjalanan kami hanya ngobrol ringan soal pekerjaan dan
kami bersenda gurau di antaranya. Aku tahu Susi adalah wanita yang amat
kesepian, aku juga terkadang kasihan melihatnya. Meski dia sukses di
kariernya tapi di lain pihak di juga butuh pendamping yang mengisi
kekosongan jiwanya.
“Mas Sony, sebelumnya aku minta maaf kalo permintaanku kali ini
menyita waktu untuk keluarga Mas,” Susi mulai membuka pembicaraan.
“Aku sukses dalam berkarierku dan hidup mewah karena support besar
company Mas Sony, khususnya Mas Pribadi dari Mas,” kata Susi, (ini
karena perusahaanku merupakan big customer bagi dia).
“It’s OK,” jawabku.
“Mas Sony kali ini aku meminta kepada Mas, buatlah 2 hari ini berarti buat kekosongan hidupku,” pinta Susi.
“Mas Sony kali ini aku meminta kepada Mas, buatlah 2 hari ini berarti buat kekosongan hidupku,” pinta Susi.
“Hiburlah aku yang kesepian Mas,”
pinta Susi lagi. Cihuy.. sorak aku dalam hati.
Setelah check in kami lantas menuju ke paviliun paling ujung yang
mempunyai view sangat indah berpagar bukit dan taman anggrek nan segar
dipandang mata.
Hawa dingin ini membuatku sedikit malas untuk melakukan
aktivitas dan kami menghabiskan kurang lebih satu setengah jam untuk
ngobrol. Yach hitung-hitung sekaligus pendekatan kepada Susi karena
selama ini hanya sebatas hubungan kerja atau formal bukan suasana
privacy seperti saat ini.
Jam tiga sore badanku mulai gerah dan rasanya
ingin mengajak Susi berenang di kolam air hangat di Hotel tersebut.
Kami pun berenang bersama dan rasanya sungguh nikmat, hangat dan
segar. “Mas Sony masih kelihatan gagah yach,” puji Susi saat aku
istirahat sebentar dan duduk di tepian kolam.
“Ah Masak sich?” sahutku.
Sepintas aku menangkap gerakan bahwa matanya tertuju pada
selangkanganku yang memang sudah hampir 1 ,5 bulan tidak pernah lagi
bersarang.
Meski lagi mengkerut akan tetapi dengan celana renang ketat
ini pastilah menonjol testisku. Kulihat Susi sedikit menahan nafas
karenanya. Kami lantas berenang dan berenang lagi sampai badanku terasa
sedikit capai.
Aku lantas berhenti dan melilitkan handukku menuju ke
kursi di pinggiran kolam, lalu kuteguk air mineral ukuran setengah liter
itu sampai habis. Susi sendiri masih asyik berenang dan tak kusangka
tubuhnya yang biasa dibalut jas kerjanya itu kelihatan ramping dan mulus
sekali.
Aku berdiri melakukan gerakan pelemasan kecilku sambil menikmati
tubuh mulus Susi dan Susi semakin merasa aku perhatikan semakin terkesan
dibuat- buat gerakannya memancing birahiku. Aku kemudian rebahan
kembali di kursi dam melemaskan ototku, Susi sebentar kemudian naik
menyusulku mengambil tempat di sampingku.
“Sus..” panggilku yang aku buat-buat semesra mungkin.
“Hem..” sahut Susi yang ternyata masih menyedot orange juice dan bibirnya itu wah tidak dibayangkan dech kalau lagi menghisap punyaku ini.
“Hem..” sahut Susi yang ternyata masih menyedot orange juice dan bibirnya itu wah tidak dibayangkan dech kalau lagi menghisap punyaku ini.
Dan perlahan namun pasti penisku mengeras menyembul di bawah belitan
handukku, lalu aku sedikit naikkan pinggulku agar Susi juga dapat
menikmati apa yang ia inginkan sesaat lagi.
“Ada apa Mas..?” tanya Susi sedikit serius namun matanya melirik ke
arah penisku yang sudah setengah mengeras. “Enggak, cuman aku melihat
hari ini kamu lebih seksi,” rayuku.
“Emm.. gimana yach kalo si kekar dan si seksi bersatu yach..” tanya Susi mengerlingkan mata kirinya.
“Pengin tau jawabnya? Hayo kita ke markas,” ajakku seraya membimbingnya
berdiri. Kami lantas berjalan bergandengan menuju paviliun kami
menginap.
“Emh belum-belum khok udah loyo,” ejekku kepada Susi dan berlari kecil meninggalkannya.
“Eh sialaan..” teriak Susi lalu mengejarku yang berlari ke arah Paviliun itu. “Mas Sony, gandeng doong..” rengek Susi manja disela-sela nafasnya yang terengah-engah.
“Eh sialaan..” teriak Susi lalu mengejarku yang berlari ke arah Paviliun itu. “Mas Sony, gandeng doong..” rengek Susi manja disela-sela nafasnya yang terengah-engah.
Kami pun bergandengan mesra bak orang pacaran dan semua terjadi
spontan. Aku tak ingat lagi istri dan anakku di rumah saat ini, yang
kuinginkan hanyalah kenikmatan dan kehangatan tubuh Susi untuk
melampiaskan libidoku.
Kami memasuki paviliun itu dan duduk di sofa
besar menghadap ke arah bukit indah. Matahari serasa mengintip kami dari
balik bukit itu dan enggan menutup tirai hari ini dan dilain pihak kami
sudah ingin segera menikmati malam indah nanti.
Kami duduk berdampingan
menikmati alunan musik lembut dan pemandangan yang mempesona di bukit
sana.
“Lis, aku sebenarnya.. sedikit.. emmhh..” kataku ragu.
“Mas Sony, aku adalah wanita normal dan punya hasrat seks akan tetapi Mas Sony jangan khawatir padaku, aku nggak bakal minta macam-macam dari Mas Sony dan kita hanya bersenang-senang saja, just fun,” kata Susi semakin memantapkan rasa hatiku.
“Mas Sony, aku adalah wanita normal dan punya hasrat seks akan tetapi Mas Sony jangan khawatir padaku, aku nggak bakal minta macam-macam dari Mas Sony dan kita hanya bersenang-senang saja, just fun,” kata Susi semakin memantapkan rasa hatiku.
“Lagian nggak mungkin karena aku tahu Mas Sony punya keluarga yang bahagia,” imbuh Susi.
“Bukankah istri Mas juga tidak boleh melayani lagi karena bahaya bagi usia kandungannya,” bela Susi seraya melingkarkan kedua lengan rampingnya ke leherku.
“Bukankah istri Mas juga tidak boleh melayani lagi karena bahaya bagi usia kandungannya,” bela Susi seraya melingkarkan kedua lengan rampingnya ke leherku.
Aku kemudian mendekap Susi, terasa hangat dan lembut tubuh indah ini
lalu kudekatkan wajahku ke arah wajahnya. Kami bertatapan cukup lama dan
penuh arti, kulihat dari tatapan matanya Susi sudah betul-betul horny
demikian pula aku yang sudah 2 bulan lalu tidak mengasah batang pejal
kebangganku.
Sekejap bibir kami mulai menyatu dalam alunan kemesraan
berselimut hasrat bergelora. Ujung lidah kami bergantian menggelitik
rongga mulut kami masing-masing.
“Mass.. oohh puaskan aku yach sayang,” rengek Susi di sela-sela desah nafasnya yang memburu deras.
“Segera sayang, saatnya sebentar lagi tiba. Aku akan membawamu ke langit
tujuh,” bisikku sambil melepas satu persatu kain di tubuhnya.
Udara dingin yang bersentuhan langsung dengan pori-pori Susi menambah
sensasi dan rindu akan sentuhan dan juga rabaan-rabaan maupun jilatan
sekujur tubuhnya. Kali ini aku akan memperlakukannya bak seorang putri
maka akan berbahagialah Susi dalam dua hari ini.
Setelah memakaikan dia
sleeping jas, aku kemudian mengajaknya berdiri di dekat jendela
menikmati senja nan indah dan syahdu ini, aku mendekapnya dari belakang
dan belakang telinganya mulai kusentuh dengan ujung lidahku.
“Mass.. oogghh..” Susi hanya bisa mendesah dan mengesek kedua pahanya.
“Sudah Berapa lama Say..” bisikku di sela-sela permainanku di belakang telinga dan tengkuknya.
“Tiga bull.. aa.. aahh.. gellii,” pekik Susi sambil membalikkan tubuhnya menghadapku.
“Sudah Berapa lama Say..” bisikku di sela-sela permainanku di belakang telinga dan tengkuknya.
“Tiga bull.. aa.. aahh.. gellii,” pekik Susi sambil membalikkan tubuhnya menghadapku.
Wajah penuh gairah itu mendongak ke arahku dan kulumat bibirnya
sementara tanganku mulai menanggalkan semua yaang tersisa di tubuhnya.
“Masshh.. oogghh.. mmpphh,” Susi menceracau sambil melucuti pakaianku.
Kami sudah telanjang bulat bersama sambil berdansa seirama alunan
musik hotel, tubuh kami menyatu dan saling dekap dalam kelembutan dan
kehangatan birahi dan tetap berdansa dalam irama kelembutan.
Tangan Susi
melingkar di tengkukku dan kulingkarkan tanganku di pinggangnya, namun
kemudian kuturunkan ke arah bongkahan pantatnya dan meraba serta meremas
lembut. Pada saat itulah Susi melepaskan bibirnya untuk melenguh
sejenak menikmati rabaan serta sentuhanku. Penisku sedari tadi mengeras
tegak itu menempel di perut Susi membuat sensasi kehangatan di antara
kehangatan tubuh kami.
Cukup lama kami berdansa dan entah sudah berapa lagu kami lewati
bersama namun aku tidak ingin segera mengakhiri foreplay ini karena aku
ingin Susi lebih dapat menikmati keromantisan ini lebih lama lagi.
Aku
membimbingnya ke arah Sofa dan kududukkan Susi di pangkuanku, kami pun
semakin tenggelam dalam suasana, namun aku tetap berusaha menguasai
diri. Pangkal penisku tepat bersentuhan dengan vaginanya yang terasa
sudah amat merekah karena rangsangan hebat dan lelehan mani Susi semakin
deras terasa menetes ke “telor”-ku. Cumbuan demi cumbuan dan rabaan
serta sentuhan sudah kulakukan terhadap Susi.
Bibirku sudah pindah ke arah dada Susi kukulum payudara yang kiri dan
tangan kananku memilin puting yang kanan, punggungnya aku beri sentuhan
dengan tangan kiriku. Susi semakin tak mampu menguasai birahinya yang
sudah di ubun- ubun tubuhnya menggelinjang hebat.
“Ooogghh.. aahhkkhh.. please.. masukin.. mass.. sshh,” desis Susi sambil menjambak rambutnya sendiri.
Bibirnya mendesis tubuhnya ia jatuhkan ke belakang dan bertumpu pada
lenganku. Kesempatan itu kugunakan untuk melirik ke arah vaginanya yang
merekah menebar bau semerbak, aku tertegun sejenak karena sebelumnya aku
belum pernah melakukan ini terhadap istriku atau wanita lainnya.
Namun
aku yakin (seperti di cerita-cerita situs ini) jika kujilat vagina Susi
hal ini akan mampu membuat Susi menggapai orgasmenya lewat hisapanku
nanti.
“Soonnhh.. cepp.. peethh.. issepphh..” rengek Susi terengah- engah saat aku mulai mencumbui bagian bawah perutnya yang indah.
Aku tak menjawab namun segera kududukkan Susi di sofa, kedua pahanya
kuletakkan di pundak dan mulailah aku dengan jilatanku di vagina Susi.
Vaginanya harum bentuknya pun begitu indah dan masih sempit rambutnya
tercukur bersih.
“Ssshh.. oouuwww.. aagghh.. pleasee..” pinta Susi diikuti penekanan kepalaku ke arah selangkangannya.
Sekejap kemudian aku memainkan kasarnya permukaan lidahku untuk
menjilat bibir minoranya yang merekah dan Susi hanya bisa menjerit lirih
menahan orgasmenya yang begitu cepat datang. Sudah tiga bulan, pantas
saja sekejap sudah mencair birahi wanita ini, bathinku dalam hati. Aku
menyambutnya dengan patukan dan juluran lidahku di dinding rahimnya lalu
kukeluar- masukkan lidahku bak penis selagi memompa vagina secara
teratur dan lembut.
“Aaawwuughh.. aaghh.. aaghh.. sshh.. Maasshh..” Susi mengawali orgasmenya dengan jeritan panjang.
Aku menyambutnya lagi dengan menghisap vaginanya dalam-dalam, aku
sundut-sundut dengan interval yang lembut teratur. Dan benar dugaanku
kali ini, orgasmenya yang kedua segera menyambung membuatnya semakin
ngilu dan geli yang amat sangat.
“Aaagghh.. kuu.. llaaghh.. gii.. aakkhh..” Susi mendongak, kedua tangannya mencengkeram erat sofa.
“Ogghh.. Masshh.. aaghhghh.. aakkhh.. aahhghh..” Susi mendesah mengakhiri orgasmenya.
“Ogghh.. Masshh.. aaghhghh.. aakkhh.. aahhghh..” Susi mendesah mengakhiri orgasmenya.
Aku berhenti untuk membersihkan mukaku dan menjilat sisa-sisa mani Susi yang terlihat meleleh menetes hingga anusnya.
“Mass.. aakhh.. please,” pinta Susi kegelian saat aku membersihkan sisa maninya di sela-sela labia minora-nya.
Aku kembali duduk di sofa dan mendudukkan Susi di pangkuanku, dan
sebelum duduk Susi ambil ancang-ancang untuk menancapkan penisku.
“Slerrphh.. aakgghh.. hangatthh..” suara penis membongkar vagina dan
desahan Susi bersamaan 3 /4 penisku dengan mudah tenggelam menjejali
vagina Susi.
Susi duduk tegak, kedua tangannya membelai rambutnya, matanya
terpejam menggigit bibir bawahnya, kemudian ia buka mulutnya saat
mendesah bergantian, pinggulnya digoyangkan perlahan sesekali dan pada
saat yang tepat ia hentakkan ke pangkal penisku. 16 ,5 cm penisku telah
masuk mengisi rongga rahimnya membuat sensasi kehangatan dan nikmat
bercampur jadi satu.
“Oookkhh.. hangatthh.. aakkhh.. Masshh.. puassinnhh.. aku..” pinta
Susi diiringi dengan gerakan naik-turun pinggulnya seperti seorang joki.
15 menit berlalu, tampaknya Susi masih tenggelam dalam alunan
sorgawinya dan kuperhatikan dari tadi matanya tampak terpejam menikmati
sensasi ini. Aku sendiri mengimbangi goyangan Susi dan menunda
ejakulasiku, karena aku amat kasihan melihat Susi yang haus akan
kenikmatan birahi.Aku berusaha menambah rangsangan dengan menggesekkan
telunjukku ke anus Susi yang sebelumya kubasahi dengan ludahku.
Tepat
saat ujung telunjukku memasuki anus Susi, Susi tampak sedikit terkejut
dengan membuka matanya lebar-lebar dan sekejap kemudian terpejam dan
tubuhnya menegang.
Wajahnya menyeringai, kedua tangannya mencengkeram
punggungku erat-erat dan menarik tubuhnya menjauh dariku, tampaknya
moment inilah yang Susi tunggu sejak tadi.
“Ngghh.. aagghh.. aakhh.. aakkh aahhgghh..” Susi mulai mendapatkan orgasmenya yang nyata yang ia pendam selama tiga bulan.
Pinggulnya ia goyangkan keras tak beraturan demikian pula hentakan
pinggulnya dan beruntung rambut kemaluanku sudah aku cukur bersih
sehingga terbebas dari rasa sakit akibat himpitan saat vagina
menghujamnya.
Lelehan maninya sampai ke pangkal telunjukku yang diam di
anusnya kemudian telunjukku yang sudah licin tadi kutusuk-tusukkan lebih
keras dan dalam di rongga anusnya. Susi semakin menghentak dan
bergelinjang tak karuan menyambut orgasmenya yang keempat.
“Aaargghh.. aagghh.. oohhgghh.. aakk.. akkhh.. kell.. luaarr aaghh..”
Susi menjerit keras menggapai orgasmenya kali ini. Vaginanya terasa
hangat dan terasa lebih menggelembung dari pada tadi.
“Ooghh.. oommpphh.. aagghh..” desah Susi tampak lega mengakhiri orgasmenya.
Aku sengaja menunda orgasmeku agar weekend kali ini betul- betul lain
dari yang lain bagi Susi. Lalu kurengkuh kepalanya, kemudian kukecup
mesra bibirnya, kulepas, lalu kutatap lembut wajahnya, ekspresi kepuasan
terpencar dari sudut matanya yang bening.
Masih tetap menancap penisku
di rahimnya, kemudian kami berdekapan mesra lama sekali.
“Sus..” tanyaku. “Hem eemhh.. makasih Mas Sony,” jawab Susi puas.
Karena capek Susi melepas gigitan vaginanya dan menghempaskan dirinya di sofa.
“Aahgghh..” lega dan tiga menit Susi pun tertidur di sofa lalu aku mengambil selimut hangat untuk Susi.
Setelah mengambil handuk dan mencuci penisku dengan shower hangat di
kamar mandi, aku mengambil sleeping jas-ku, kemudian menghampiri Susi di
sofa. Kubelai lembut Susi dan kuletakkan kepalanya di pahaku.
Aku
terdiam menikmati senja yang mulai gelap, tak kulihat lagi indahnya
bukit di seberang hotel yang tampak hanya lampu kerlap kerlip di
kejauhan. Karena udara semakin dingin menusuk ke tulang rasanya maka aku
menggotong Susi ke tempat tidur dan kudekap hangat ia di dadaku di
balik kehangatan selimut kami.
Tiga puluh menit Susi terlelap, belum ada
tanda-tanda ia terjaga membuatku sedikit gelisah karena penisku kembali
tegak berdiri.
“Mmmpphh.. ooaakhh ampph.. hahh..” Susi tampaknya terjaga dan ia kaget mendapati penisku mengeras.
“Sebentar Yach Mas, aku ke kamar mandi dulu, entar gantian Mas aku puasin,” kata Susi datar seraya berlari kecil ke kamar mandi.
Aku kemudian melepas sleeping jas-ku dan mengelus-elus penis
kebanggaanku yang kokoh berdiri tegak. Dari kamar mandi Susi
menghampiriku dan menepis tanganku dari penisku dan kini mulut mungil
Susi mulai mengulum kepala penisku.
Batang penisku ia kocok-kocok lembut
terkadang ia remas hingga ke kedua biji kemaluanku.
“Oookhh Suss.. sshh..” aku hanya dapat mendesis menikmati kocokan tangan lembut ini.
“Oookkhh.. lebih kerass.. ssaayy..” ceracauku tak karuan karena ejakulasiku tertunda.
“Oookkhh.. lebih kerass.. ssaayy..” ceracauku tak karuan karena ejakulasiku tertunda.
Susi lebih keras lagi mengocok dan diselingi kuluman-kuluman di
sepanjang batang penisku. Kulihat Susi menggengam batangku dan terlihat
kepala penisku menyembul di antara genggaman tangannya. Ujung lidah Susi
beradu dengan ujung kemaluanku tepat di lubang sperma penisku dan Susi
mematuk-matukkan lidahnya tepat di situ, rasanya badan ini bergetar
hebat dan ngilu yang amat sangat.
Kedua pahaku otomatis terbuka lebar
dan Susi menempatkan tubuh rampingnya di antara kedua pahaku. Aku
semakin tak tahan dengan permainan Susi, kucengkeram erat rambutnya
menahan rasa geli.
“Suusshh.. ooghh.. Suss..” aku mendesis berusaha menahan laju spermaku.
“Bocorin saja Mas.. ayo sayang..!” kata Susi sambil melihat ke wajahku yang sedang kelojotan kemudian meneruskan patukan lidahnya yang semakin nakal dipadu dengan kocokannya yang lembut.
“Bocorin saja Mas.. ayo sayang..!” kata Susi sambil melihat ke wajahku yang sedang kelojotan kemudian meneruskan patukan lidahnya yang semakin nakal dipadu dengan kocokannya yang lembut.
Aku melirik ke arah Susi, tampak wajahnya puas mengerjaiku kali ini.
“Aaakhh.. Susshh.. mmpphh..” desahku menikmati permainan oral Susi.
Aku semakin tak tahan dengan sensasi yang dibuat Susi apalagi ia
melakukannya juga dipadu dengan pilinan lembut jemari kirinya di puting
susuku. Aku berusaha mati-matian menahan laju spermaku, namun usahaku
itu sia- sia, tiga detik kemudian aku melenguh panjang menyambut sensasi
yang segera datang.
“Suuss.. hisapphh.. Sayy.. aku mauu.. kell..” pintaku tak sabar.
Susi tanggap, kemudian menghisap dalam-dalam kepala penisku, sedetik kemudian..
“Arr.. aakhh.. aakkhh.. aakhh..” aku terpekik melepas semburan maniku di mulut mungil Susi.
Ditelannya semua spermaku hingga ke tetes terakhir dan penisku
semakin terasa kasat dibuatnya. Masih tetap ia kocok penisku sehingga
tetap pada kondisi tegang terus meski sudah menyemburkan mani kental.
Apalagi sudah dua bulan tidak bersarang, pastilah burungku akan menegang
sampai menemukan sarangnya. Aku kemudian mengulum bibir Susi sementara
Susi masih mengelus penisku dengan lembut.
Susi rupanya ingin menikmati
seks ini dengan alami karena ia merebahkan dirinya di sampingku, lalu
aku melingkarkan pahaku di atas kedua pahanya. Bibirku kini sudah berada
di puting kiri Susi untuk mengerjakan tugas berikutnya, yaitu
menggigit-gigit kecil disertai remasan- remasan.
“Mpphh.. oowwghh.. mm.. Maashh..” tampaknya birahi Susi mulai bangkit dari tidurnya.
Tangan Kiriku juga tak tinggal diam untuk memilin puting kanannya.
“Aaaww mmpphh.. sshh.. Mass.. kamu hangat sayang..” puji Susi ketika
aku mulai menindih tubuhnya dan mencumbui kedua ketiaknya secara
bergantian.
“Oooghh.. aahhgghh.. kamu jantan Sayangg.. aku mencintaiimu,” Susi terus
memujiku, tampaknya permainan lembutku membuatnya lupa diri.
Dari rabaan telunjukku tampaknya Susi sudah siap jika penisku membongkar rahimnya lagi karena sudah lembab.
“Aku masukin yach Say..” tanyaku.
Susi lalu mencumbui aku dengan lembut namun telapak tangan kanannya meremas pantatku lalu menekannya.
“Blesshh..” dengan mudah masuk seluruh batang penisku karena vagina
Susi sudah lembab dan licin akan sisa-sisa spermaku sore tadi.
“Maasshh.. aakk,” Susi mendesah panjang menyambut kehangatan yang mulai menjalar ke semua rongga rahimnya.
“Maasshh.. aakk,” Susi mendesah panjang menyambut kehangatan yang mulai menjalar ke semua rongga rahimnya.
Kami bercumbu bersama tanpa melakukan goyangan, namun sesekali aku
memainkan otot penisku di liang vagina Susi membuat Susi kelojotan
menahan geli bercampur nikmat.
“Aaahh mmphh.. aah sshh.. aaghh.. ooghh.. nikmath..” desah Susi.
Kami masih bergumul dalam irama syahdu diiringi desah kelembutan
nafas, entah nafsu atau cinta aku pun tidak peduli. Badan Susi semakin
menghangat tanda-tanda ia menjelang puncak nafsunya.
Aku mulai memompa
penisku lembut dalam irama teratur semetara kedua tanganku memilin dan
meremas kedua bukit indahnya. Tubuh Susi semakin terhentak kala tempo
permainan hentakanku semakin kutambah, hal ini karena sensasi yang aku
rasakan juga semakin nikmat.
Penisku terasa tergigit oleh labia
minora-nya kala aku menusukkan penisku dalam-dalam dan terasa terhisap
kala aku menarik penisku.
Pompaan penisku semakin kencang sampai badan Susi terhentak, namun
Susi hanya merengek manja, melenguh, mendesah dan menjerit lirih kala
sedikit gesekan penisku membuat vaginanya ngilu.
15 menit berlalu,
kepalanya kulihat mulai menoleh ke kiri dan ke kanan tak beraturan,
wajahnya memerah oleh birahi, tubuhnya terasa lebih hangat dan vaginanya
mengempot teratur. Tubuhnya lalu menegang, kedua tangannya lantas
dibuka lebar-lebar ke atas, berpegangan pada sisi tempat tidur untuk
bersiap-siap melepas orgasmenya yang akan dahsyat.
Aku membantu menstimulasi gesekan penisku dengan klitorisnya yang
kenyal di bagian tubuh lain, aku mencumbui kedua ketiak Susi bergantian.
Susi merasakan terbang di langit yang tinggi beralaskan putihnya mega
yang menyelimutinya dan shatin tempat tidur ini memberi inspirasi seolah
kami bercumbu di awan yang lembut.
“Sus.. I love you..” bisikku spontan kala mendapati wajahnya yang
cantik rupawan, memang dia adalah tipeku, tipe-tipe wanita langsing
seperti dia.
“Ahhghhku.. juhhggaa.. Masshh,” Susi membalas cumbuanku dengan buas.
Kali ini Susi diam membisu dan tubuhnya mulai menegang, diam dan
matanya terpejam memancarkan ekspresi mendalam. Aku lalu melesakkan
dalam-dalam penisku terasa mentok sampai ke dasar dan aku diamkan di
sana sambil aku mainkan otot-otot penisku. Sedetik kemudian datanglah
apa yang Susi rindukan,
“Maasshh.. aagghh aaghh aakkhh.. aahkkuu.. ssaamm..” Susi mengawali orgasmenya dengan lengkingan panjang.
Putingnya kini aku gigit-gigit kecil dan lereng bukit payudaranya aku
remas lembut dan tampak Susi masih mendesah meregang orgasmenya yang
pertama. Stimulasi di putingnya membuatnya menggapai orgasmenya yang
kedua dan ketiga secara bersamaan.
“Ooouugghh.. aakku.. lahhggi.. aagghh..” Susi menggelinjang tak karuan.
Tangannya mencakar punggungku menahan geli bercampur yang amat sangat
kala aku semakin cepat memompa lagi penisku.
Cairan mani Susi yang
banyak menyebabkan bunyi- bunyi saat penisku menghujam vagina Susi dan
semakin melicinkan tusukanku saja, dan yang kutunggu segera tiba.
“Susshh.. aahku.. mmpphh..” gumamku sambil menggenjot penis dan meremas puting Susi.
“Masshh.. aagghku.. jugaa..” balas Susi.
“Oouumpphh.. aa.. aa.. aaghh,” teriak kami bersamaan, persetan dengan orang lain yang mendengarnya.
“Masshh.. aagghku.. jugaa..” balas Susi.
“Oouumpphh.. aa.. aa.. aaghh,” teriak kami bersamaan, persetan dengan orang lain yang mendengarnya.
Maniku mengalir deras bersamaan dengan Susi yang kurasakan hangat di
sepanjang batang penisku. Kami pun terbawa arus orgasme bersama yang
sensasional bergumul, mencumbui, menggigit kecil bergantian dan nikmat
“langit tujuh” bagi Susi sudah ia dapatkan dan juga aku.
Susi masih
tetap dalam dekapanku dan tak ingin kulepaskan untuk selamanya saat
penisku terlepas dari gigitan vaginannya. Aku melirik ke arah jam
dinding yang menunjukkan pukul 09 :00 malam dan itu berarti kami sudah
bercinta lebih kurang 5 jam sejak sore tadi.
Kami lalu berendam di bath tub hangat dan tidak melewatkan satu ronde
di sana sebelum kami keluar bersama mencari makan dan minuman energy
serta gingseng. Setelah itu kami kembali ke hotel lagi dan menghabiskan
malam dengan berbagai gaya bercinta seperti yang kami lihat di channel
video kamar kami sampai jam 03 :00 pagi, setelah itu kami tertidur
karena lelah.
Dua hari kami habiskan menguras mani kami masing-masing
sebelum akhirnya kami berpisah di Surabaya. Para pembaca, nafsu memang
bukanlah cinta karena seseorang bisa bilang cinta saat diselimuti nafsu,
demikian pula sebaliknya. Salam bagi semua dan semat beraktivitas apa
saja, mau diteruskan beronani atau bermasturbasi ria silakan.
Post By : PokerAstro.net




0 comments:
Post a Comment