Agen Poker Indonesia - Kak Rita adalah teman kakak ku sejak SMP sampai SMA, mereka berpisah saat kuliah. Kak Rita kuliah di luar daerah mengambil jurusan Seni Rupa, sementara kakak saya tetap di kota M**do mengambil jurusan ekonomi akuntansi. Setelah wisuda dia membuka rumah modenya sendiri di ibukota. Bagi saya dia adalah salah satu contoh wanita sukses karena masih muda, belum menikah, dan sudah memeiliki usaha sendiri yang bisa dibilang sudah maju.









Bandar Domino QQ - Bodynya lumayan juga untuk wanita seumurannya yang sudah menginjak usia 36 tingginya sekitar 167cm mempunyai dada yang montok dan pantat yang padat, berat badannya kurang lebih 65Kg. yang pasti kalo dia pake baju yang ketat bodynya yang padat berisi membuat mata setiap laki-laki normal tidak berkedip dibuatnya.

Kakak saya baru saja menikah jadi biasanya kalo kak Rita nginap di rumah, tidur bareng kakak saya sekarang dia tidur di kamar tamu.

Awal kejadiannya ketika saya disuruh kakak saya membantu kak Rita untuk mengangkat koper pakaiannya ke dalam kamar tamu. Saat itu dia hanya memakai kaos berdada rendah sama celana jeans pendek ketat tapi bagi saya itu bukan lagi celana jeans tapi hotpants soanya tinggal beberapa cm lagi udah kelihatan selangkangannya. Saat dia membungkuk mengambil koper yang kecil secara tidak sengaja kalo belahan dadanya ngintip diantara kaos nya.

Pemandangan itu tepat di depan saya,dan angan-angan saya langsung melayang mengenai pemandangan indah sepasang gunung kembar yang tadi saya lihat. wuiiiih… toketnya padat banget kira-kira ukuran berapa yah seandainya saja saya bisa…… pikirku dalam hati.

Selanjutnya hayalanku buyar oleh suara kak Rita.

“Don ayo dong… kok ngelamun aja… udah punya pacar ya….” Canda kak Rita.
“Eh nggak kok kak biasa aja” jawab saya.

Selanjutnya saya langsung membawa koper itu ke dalam kamar. Sesampainya di dalam saya merapikan kamar itu sementara itu kak Rita lagi sibuk mengatur pakaian-pakaiannya ke dalam lemarinya. Saat sementara merapikan kamar kami berbincang-bincang mengenai pekerjaan dan lain-lain.

Saya mencoba menanyakan tentang bisnisnya dia menjawab… “yah biasa aja maklum lagi masa sunyi semua lagi dalam masa reses, trus ngomong-ngomong gimana kerja kamu Don..?” Tanya kak Rita.

“yah biasa aja kak masih seperti dulu” Jawab saya tapi lumayanlah buat nambah uang jajan. Daripada bergantung kepada orang lain”.
“yah bagus deh kalo kamu punya pemikiran seperti itu…” daripada anak-anak lain hobynya cuman bisa habisin duit orang tua” sambung kak Rita.
“Ah biasa aja kak…” jawab saya.

Sambil berbincang-bincang mata saya tak luput curi-curi pandang kepada dada kak Rita yang lumayan besarnya, setiap dia membungkuk mengambil pakaian di dalam koper untuk dimasukkan ke lemari pasti belahannya nongol diantara kaosnya paha dan pantatnya yang montok tergambar jelas dengan balutan celana jeans pendek ketat yang dipakainya.

“akhirnya semuanya sudah rapi…!” kata kak Rita..

Selanjutnya saya langsung permisi sambil memberitahukan kalo mo makan langsung aja ambil di meja makan. Kami semua udah makan siang.

‘ok deh Don… makasih yah udah bantuin..”

Kata kak Rita ditambah senyumannya yang khas…

Selanjutnya saya pun melanjutkan kerja saya yang harus dibawa pada hari senin. “Uh dasar bos nggak bisa lihat orang senang hari sabtu masih aja disuruh kerja” gumamku dalam hati.. sambil dengerin musik Fade to Black nya Metallica saya melanjutkan kerja di kamar saya. Nggak kerasa hari sudah sore sekitar pukul 16:20 dan pekerjaan saya belum juga kelar.

“Ah mending dilanjutin ntar malam aja” saya langsung mematikan laptop saya tapi tidak lupa save dahulu pekerjaan saya.

Saya kemudian duduk di luar rumah sambil memperhatikan motor saya yang becek karena hujan kemarin..

“hmmm daripada bengong mending cuci motor aja deh” pikirku.

Sementara saya mencuci motor muncul kak Rina yang kelihatannya baru bangun tidur.

“eh kak baru bangun ya…?” saya membuka percakapan dengannya
“ia nih capek karena perjalanan tadi, jadi… tadi habis mandi kakak langsung bobo” jawabnya.
Nggak lama kemudian muncullah kakak saya dan mereka pun berbincang-bincang di depan rumah sementara saya masih sibuk “memandikan” motor saya.

Trus terdengar ledekan dari kakak saya…

“Don… motor aja yang loe pikir gimana nggak mo diputusin cewek… kamu lebih merhatiin motor daripada cewek loe”.
“Ah kakak.. biarin aja pasti ada kok yang mau sama saya” jawab saya.

Setelah saya selesai mencuci motor langsung deh saya parkir di garasi dan masuk ke rumah lalu santai nonton TV.

Baru saja mo santai terdengar suara kak rina

“Don sebentar bisa temenin kak Rita..?”
“mo ke mana kak..?” Tanya saya.
“Nggak kok cuman mo cari gorengan aja sambil putar-putar kota.. udah kangen ama suasana di sini.. nanti ada ongkos bensinnya kok” jawabnya.
“Ok deh kak… tapi janji ya ada ongkosnya” jawab saya..

Tapi saya disuruh tunggu oleh kak Rita karena mo ganti baju…. Setelah sekitar 5 menit kak Rita pun keluar, dia memakai celana jeans pendek tadi lalu dipadukan dengan tank top putih. Wah… saya sampai kaget melihat kak Rita yang tampil seksi Selanjutnya kami pun berangkat

“kak.. tolong jaga rumah ya…” canda saya kepada kakak saya..

Dengan PD nya saya jalan bareng motor saya sambil membonceng wanita sexy

“wah kapan lagi motor gw dinaiki cewek sesexy dan secantik ini” karena motor gua udah dimodif jadi kak Rita boncengnya aga nungging.

Tanpa malu-malu kak Rita menyandarkan dadanya ke punggung saya lalu kedua tanganya memegang bahu saya.. ah padat benar nih dadanya tapi saya pura-pura santai aja. sambil jalan jalan kami pun kembali berbincang-bincang..

“Don… gimana kabar pacarmu yang kemarin…?” Tanya kak Rita
“ah yang itu kak… udah putus soalnya orangnya cemburuan. Nggak bisa lihat gw bicara ama cewek lain” jawab saya.. sepanjang perjalanan kami berbncang-bincang mengenai keseharian kami.. seringkali dadanya “menghantam” punggungku entah itu disengaja atau pengaruh motor tapi yang pasti saya sangat menikmati kesempatan yang langka ini dan dia pun sepertinya cuek aja.

Sementara saya asik dengan motor dan dadanya kak Rita tiba-tiba saja hujan membasahi kami, saya pun langsung mencari tempat berteduh yang aman dari hujan.

“Sial barusan saja dicuci tiba-tiba hujan deras, tapi lumayan juga walaupun motor gw kotor nggak sebanding degan kesempatan yang saya dapatkan sore ini”, gumam saya dalam hati.

Akibat hujan yang tiba-tiba membasahi kami berdua membuat baju putihya menjadi transparan dan menjadi semakin nampak dua gunung kembar yang ditutupi BH hitam. Pemandangan ini pun tak luput dari mata saya yang mulai mencuri-curi pandang ke arah dadanya. Sekitar 5 menitan hujan mulai reda dan kamipun langsung tancap gas pulang, karena waktu sudah menunjukkan hampir jam 6 sore.Sementara di motor saya ngak sangka tiba-tiba saja dia langsung memeluk tubuh saya, saya pun kaget tapi saya membiarkan saja karena saya juga menikmatinya. Konsentrasi saya pun menjadi semakin kacau diantara melihat kendaraan yang lalu lalang dan pelukan hangat dari kak Rita…

Saya mencoba menanyakan kepadanya… “dingin ya kak…?”

“ia Don.. saya kedinginan, nggak apa-apa kan soalnya dingin banget nih” jawabnya..
“Mmmm ngga apa-apa kak…” jawabku, kesempatan ini membuat hayalan saya semakin tinggi saja.

Sesampainya di rumah saya kaget rumah dikunci, ternyata kakak saya sedang keluar bersama suaminya.

“wah ini kesempatan langka, karena mereka berdua lagi nggak di rumah” Ucap saya dalam hati, kakak saya setiap akhir pekan dia selalu saja jalan-jalan bareng suaminya dan seringkali kalo bersama rekan-rekannya bisa sampai subuh.

Saya pun langsung mengambil kunci cadangan saya untuk membuka pintu lalu kami pun masuk ke rumah dalam kondisi basah, mata saya tak henti-hentinya memandang body kak Rita yang tergambar jelas karena bajunya yang basah hingga dia masuk kamar. Setelah saya selesai mandi saya pun duduk santai dengan ditemani sebatang rokok sambil mendengarkan musik, nggak lama kemudian datanglah kak Rita dan kami pun kembali berbincang-bincang mulai dari hal-hal umum sampai saya mencoba memancing ke arah yang berbau mesum dikit.

Dalam pikiran saya terus dibayangi oleh payudara dan tubuh kak Rita, “seandainya sja saya bisa menikmati tubuhnya wah.. wah… kapan yah…”
Saya pun mencoba bertanya…

“kak..! kata kakak saya kalo kak Rita jago pijat ya..?”
“bisa kok… tapi biasa aja lagi, emangya kenapa kamu mau coba…?” ucapnya
“bisa tolong pijatin saya kak…? soalnya punggung saya terasa seperti masuk angin mungkin akibat kehujanan tadi”

jawab saya dengan kondisi yang dibuat-buat. Padahal sebenarnya saya punya maksud lain untuk mendekati kak Rita.

“ok deh ini ganti ongkos ojek tadi yah..” jawabnya sambil tersenyum.

Saya pun duduk di karpet membuka baju saya, lalu kak Rita duduk di belakang saya sambil memijat punggung saya.
Wah ternyata pijatannya ok juga. Nggak nyangka cewek secantik dan sesexy ini jago pijat juga. Pijatannya pun makin membuat saya menjadi-jadi tanganya yang halus, ditambah penis saya yang semakin mengeras akibat sentuhan-sentuhan dari kak Rita apalagi aroma parfumnya yang sesekali tercium membangkitkan libido saya untuk menciumi tubuhnya.

Seringkali dadanya menyetuh kepala saya entah itu disangaja atau tidak sengaja, tapi saya sangat menikmati dadanya yang montok “menghantam” kepala saya. Entah setan apa yang merasuki saya saya pun memberanikan diri memegang tangannya sambil mencium tangannya, dia pun membiarkan saya melakukan itu. Beberapa saat kemudain saya langsung berbalik trus langsung memeluk sambil mencium bibirnya.

Tangan saya pun mencoba menggerayangi tubuhnya mulai dari paha ke dadanya lalu meremas-remas toketnya yang lumayan kenyal. Sesekali dia mendesah kenikmatan karena ciuman & lidah saya yang mengerayangi leher dan telinganya ditambah nakalnya tangan saya yang bergerilya dari paha sampai toketnya. Karena dia cuman memakai daster membuat saya leluasa untuk menggeranyangi tubuhnya yang sexy ditambah aroma parfumnya makin membuat saya bernafsu.

“aahhhh Don…. sshhh lagi Don…” desahannya mengisi ruangan pada malam itu.

Suasana pada malam itu juga sangat mendukung yang diiringi hujan dan alunan musik dari Air Supply makin membuat saya bernapsu untuk “menikmati” indahnya tubuh kak Rita.

Detak jantungku makin tak menentu akibat libido saya yang semakin memuncak, dan tampaknya kak Rita juga demikian karena nafasnya makin tak beraturan seperti pemangsa yang mengincar mangsanya.
Lalu dia pun meminta saya duduk dan dia mengambil posisi di depan saya.

“ada suprise buat kamu” katanya diiringi senyuman nakal.

Wah apa ya yang akan dia lakukan… ucap saya dalam hati. Dia pun langsung membuka resleting celana saya, dia pun kaget karena penis saya langsung menyembul keluar..

“kamu udah nggak pake CD ya..?” tanya kak Rita.

Saya pun hanya tersenyum kepadanya..

Dengan cekatan kak Rita pun membuka celana saya dan langsung menggengam terus menghisap penis saya. Kali ini saya yang dibuat kerepotan oleh permainannya, jilatannya dari kepala penis sampai ke dua buah kantong hingga ke SUN HOLE saya. Sensasinya luar biasa apalagi saat di mulai menjilati daerah di antara dua kantong dan SUN HOLE saya. Wah seakan-akan berada di langit ke tujuh, sangat berbeda dengan apa yang pernah saya alami dengan layanan para WP di tempat Pijat PP.

Sedotannya pun makin menjadi-jadi karena desahan kenikmatan saya

“arghhh kak…. geli banget kak… ahhhhh…!”
“gimana mantap nggak..?” tanya kak Rita

Saya hanya mengganggukan kepala sambil tersenyum, karena servicenya yang mantap.

Selanjutnya dia berdiri di depan saya lalu membuka perlahan-lahan pakaian yang menutupi tubuhnya mulai dari daster hingga pakaian dalamnya hingga tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Wah inilah pemandangan yang saya impi-impikan sejak lama mulai dari dua gunung kembar ke bagian bawah, saya sangat menimati detai tubuhnya yang begitu indah, saya tidak menyangka bisa melihat dan menikmati body montok kak rita secara langsung tanpa curi-curi pandang.

Akhirnya kami berdua berada dalam kondisi yang sama-sama bugil, tanpa malu-malu lagi dia pun naik ke atas pangkuan saya, saya pun langsung mencium sambil meremas-remas payudaranya. Saya pun tidak mau kalah dengannya tangan saya mulai menggerayangi tubuhnya mulai dari payudara hingga ke Vagina. Saya pun mulai memainkan jari saya di bibir vaginan dan klitorisnya. Dia pun kembali mengerang kenikmatan saat saya memasukkan jari saya ke dalam Vaginannya.

Lalu kami berganti posisi dia pun berbaring di sofa lalu membuka lebar kakinya, tapi saya tidak mau terburu-buru saya pun langsung menciumi vaginanya sambil menjilati klitorisnya, wah wangi banget aroma vaginanya dan rambutnya yang sedikit membuat saya tidak kerepotan untuk menjilati klitorisnnya, kak Rita tampaknya rajin juga merawat daerah kewanitaannya.

“ahhhh yesss….. ahhh…!” Desahannya makin membuat saya bersemangat untuk menjilati klitorisnya.
“ahh yess geli banget Don… cepat Don masukkan aja udah ngak tahan nih…!”

Saya pun langsung ambil kuda-kuda untuk bersiap memasukkan penis saya..
Jleebbb..!! penis saya langsung masuk ke dalam vaginanya lalu mulailah pertempuran yang saya tidak sangka selama ini.

“akhirnya saya bisa menikmati setiap detil tubuh kak rita” pikir saya dalam hati…
Saya pun langsung tancap gas

Plok… plok… kedua tubuh kami yang berkeringat bercampur menjadi satu diatas sofa yang menjadi saksi bisu permainan kami berdua.

Mulut saya pun tidak mau diam, mulai dari menjilati lehernya kemudian ke belakang telinga sampai payudaranya dan putingnya tak luput dari mulut, tangan saya pun demikian mulai meremas remas payudaranya yang kenyal sampai ke pantatnya.

Kami pun berganti posisi, kali ini dia mengambil posisi WOT, goyangannya yang nikmat ditambah hantaman penis saya ke dasar vaginanya membuat dia seringkali mendesah dan mengerang kenikmatan.

Sekali-kali dia memeluk sambil rnenyandarkan dadanya ke kepala saya seolah mau berkata

“ayo… hisap sambil kulum puting saya”.

Saya hanya bisa mengulum kedua putingnya sambil meremas remas kedua pantantnya yang lumayan bahenol dan kak Rita pun semakin menjadi-jadi, saya juga sesekali meladeni goyangan pinggulnya yang seksi yang seolah-olah sedang menari di atas perut saya. Sekitar 15 menitan tiba-tiba kak Rita mengerang kenikmatan sambil memeluk saya…

“ahhh Donnn saya udah sampai nih…!”

Saya pun tidak mau membuang kesempatan, saya langsung meremas payudaranya sambil mengisap dan mengigit lembut putingya yang sudah tegang…

Saat dia klimaks saya juga merasakan sensasi yang tidak kalah hebatnya.. Vaginanya seperti meremas-remas penis saya entah bagaimana cara dia melakukan tapi itu membuat penis saya merasakan kenikmatan yang tiada taranya.

Selanjutnya saya meminta kepadanya untuk Doggy Style. Kak Rita pun langsung nungging diatas sofa penis saya pun kembali menghantam dinding vaginanya,

“Don… yess… trussinnn.. mphhh Donnn gelii banget nih, ini posisi fav aku”

Beberapa saat kemudian saya merasakan akan segera keluar. Saya pun melambatkan tempo permainan karena tidak ingin cepat-cepat keluar.. sementara dia hanya bisa merem melek menikmati penis saya di dalam vaginanya…
Saya pun mencabut penis saya kemudian memintanya untuk berbaring di sofa. Kami pun kembali ke posisi misionaris.

“ahhh… Kak enak sekali…” ucap saya kepada kak Rita..

Dia hanya bisa mengerang kenikmatan tanda dia menyukai permainan saya. Saya pun semakin bernafsu untuk memuaskan dia.

Sekali-kali dia mendesah trus menggigit bibir bawahnya sambi memejamkan mata apabila saya menghujamkan penis saya dalam-dalam hingga mencapai dasar vaginanya.

“oohh… yess… kalo gini terus saya bisa dua kali ni.. kamu belum keluar juga…?” tanya kak Rita kepada saya.
“belum… tadi udah mau keluar tapi saya tahan… karena masih ingin menikmati tubuh yang sexy ini, sayang lho kalo mo cepat-cepat” jawab saya
“ah.. kamu ini nakal… bisa aja..” jawabnya..

Saya pun makin semangat menggenjot tubuh kak Rita. Kak Rita juga sesekali menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama goyangan saya. Vaginanya seperti meremas-remas penis saya itu membuat saya makin tidak tahan sensasi geli dari permainan ini. Akhirnya setelah beberapa menit saya makin mempercepat goyanga saya karena saya merasa sudah akan mencapai puncak kenikmatan

“ahhh.. saya sudah mau keluar nih….”
“muncratnya di dalam saja Don… saya ingin merasakan sensasi kenikmatan cairanmu” katanya….

Saya pun makin bersemangat karena ini kali pertama pengalaman saya tanpa memakai kondon apalagi klimaksnya di dalam vagina…

Sambil mempercepat tempo permainan kak Rita berkata..

“cepetan Don… saya juga udah mau klimaks nih..”

Sofa pun berbunyi akibat pertempuran kami yang semakin memuncak, dan akhirya dia kembali mencapai puncak kenikmatan.

“ooohhh yeesss… Donnn.. aku klimaks Don…!! barengan aja lebih nikmat Don… ahhhh yesss..”

Tubuhnya pun bergetar dan menggelinjang kenikmatan sambil mengangkat pinggulnya.

“ahhh.. ahhh… saya juga akan klimaks” kata saya kepada kak Rita.

Kemudian penis saya tancapkan dalam-dalam ke vaginanya lalu mulai terasa cairan kenikmatan itu menyemprot di dalam dinding vagina, dia hanya bisa mendesah sambil memejamkan mata menikmati cairan kenikmatan saya lalu memeluk saya erat-erat. Sambil menikmati oragasme kami berdua saling berpelukan seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara, saya mengulum bibirya sambil memperlambat tempo permainan.

Saya melihat wajahnya dia tersenyum puas dengan kenikmatan. Selanjutnya penis saya tarik perlahan-lahan, sesaat setelah saya mengeluarkan penis saya dari dalam vaginanya cairan kenikmatan kami berdua pun ikut keluar dari dalam vaginanya membasahi sofa. Saya pun langsung mengambil baju untuk menyeka sofa yang basah oleh cairan kenikmatan kami. Kami pun kembali berpakaian lalu kak Rita mengatakan

“sebenarnya tadi siang kak Rita sudah mengamati mata kamu yang nakal itu lho.. tapi kak kak Rita sengaja membiarkan Nkamu malahan seringkali kan yang susah kamu juga… Apalagi yang waktu di motor itu lho.. kamu menikmati juga kan..? jujur aja deh Don.. kak Rita juga menikmatinya kok..”

Selanjutnya dia pun beranjak ke kamar mandi…

“saya mo bersih-bersih dulu yah… soanya udah rasa gimana gitu…” katanya.

Saya hanya tersenyum dengan perkataan kak Rita, selanjutnya saya menonton TV bersamanya.

Itulah awal kisah “kedekatan” saya dengan kak Rita. 

Posted by ;



Agen Poker Indonesia - Sebut saja nama ku roy, aku berasal dari pekanbaru, tinggi ku sekitar 174cm, berat ku 50kg, berperawakan kurus tinggi, yang kata orang disekeliling ku aku lumayan tampan, stylis, dan wangi, jadi banyak cewek yang ingin jadi pacarku, tapi aku sendiri tak punya pacar, aku lebih suka menikmati hubungan cinta satu malam dengan teman teman cewekku .





Bandar Domino Online - Sekarang aku duduk dikelas 2 SMA disalah satu sekolah swasta di kota ku, walau aku masih 17 tahun jangan bilang permainan ku kecil, sex, minum minuman,trek trekan dijalan dan dunia malam itu hal biasa buat ku, karEna sudah mendarah daging semenjak aku SMP. Diliat dari latar belakang keluargaku, karna terlahir sebagai anak tunggal aku sangatlah manja dirumah, bahkan aku terlihat sangat baik dimata orang tua ku,dan aku pun sangat santun kepada mereka, berbeda dengan kehidupan luarku, sehari hari orang tua ku bekerja sebagai pedagang grosir di pasar pusat pekanbaru, karna orang tua ku memiliki 5 toko, jadi harus mengurusnya berdua, itupun dari jam 6 pagi sampe jam 6 sore.

Aku tinggal dirumah minimalis 2 lantai, dengan 3 kamar didalamnya, 2 kamar dibawah dan 1 lagi dilantai atas, kamar depan ditempati oleh orang tua ku, aku sendiri berada dikamar lantai 2 , sedang kamar 1 lagi kosong. Keseharian ku dirumah nyaris jarang, paling pulang sekolah aku keluyuran dan terkadang kalau tidak ada acara sama teman teman aku bantu bantu orangtua ditoko, serta setelah makan malam keluarga, jadwal wajibku ngumpul sama anak komunitas mobil ku. Seperti itulah kehidupan sehari hari.

Pada siang hari itu terasa sangat melelahkan, badanku terasa lemas dan malas untuk mengikuti pelajaran, karna merasa lemas aku minta izin keluar kepada guru matematika ku, aku terus berjalan dengan suntuk menuju kamar mandi untuk mencuci muka, setelah sedikit merasa segar aku berjalan menuju kantin sekolah untuk merokok , setelah duduk santai sambil memantik rokok sebatang. Dari kejauhan terdengar suara memanggilku,

“roy… roy !”

Kulihat kebelakang ternyata siska si budak sex ku dengan temannya yang terasa masih asing bagi ku, , orangnya cantik putih mulus, dan tinggi semampai serta body yang sangat bohai bak gitar spanyol.

“eh kamu sis, gak masuk ?”
“Guru bahasa Indonesia gak masuk, kamu sendiri kenapa gak masuk?”
“malas aku, suntuk kali dikelas”
“hahahahaaa, kamu mah suntuk tiap hari, mana ada rajinnya” sambil duduk didekat ku

Mengalihkan pembicaraan

“teman baru kamu sis?” sembari aku menunjuk ke cewek cantik itu
“owh, dina maksud kamu, iya dia anak baru pindahan dari palembang, hmmm baru tadi pagi masuknya”
“kenalin lah sama aku kek mana lah kamu ni, gak asyik ah,”
“eleeeeh kamu, gak bisa liat yang bening dikit aja, din kenalin ini roy teman aku juga” sembari memegang bahu dina.

Dina menjulurkan tangannya dengan malu “dina”,

“roy” balas ku singkat,

kupandangi tubuh nya sungguh mengagumkan,dan tetek yang menonjol dibalik seragam sekolahnya, membuat kontol ku berontak dari sarangnya, namun aku berusaha menahan diri. Tanpa aku sadari ternyata dina juga memandangi, karna seorang yang ahli dalam membaca situasi, aku tau sekali bahwa dina juga menyukai wajah dan penampilanku, untung saja dia belum tau perangai aku terhadap wanita, heheh.

Terasa kikuk aku akan kecantikannya dan tak tau bilang apa lagi, buru buru aku matikan rokok ku, berniat pergi kekelas saja dengan alasan sudah terlalu lama permisi, diperjalan aku mengumpat diri ku sendiri, mengapa aku harus pergi, kenapa tidak aku olah aja, tak biasa nya aku seperti ini. Didalam kelas pun aku jadi gelisah memikirkan dina si anak baru, bahkan kegelisahan ku berlanjut sampai jam pulang. Demikian perkenalan singkat ku dengan dina yang montok.


Bel pun berbunyi, karna tak ada kegiatan lagi aku pun menginjak pedal gas mobil ferozza ku pulang. Sesampai dirumah kesuntukan kembali datang karna tak ada yang mau dilakukan, aku Cuma menonton televise samba merebahkan badan ku diatas sofa, tak terasa hujan pun turun tepat pada pukul empat sore, dengan keadaan suntuk tersebut handphone ku berbunyi, ternyata siska,

“hallo, ada apa sis?”
“ya hallo, roy kamu dimna?”
“aku dirumah, kenapa?”
“aku kerumah yah, kami kehujanan ni, depan gang rumah kamu.”
“kami” kamu sama siapa emang nya?
“ntar lah Tanya tanyanya, hujan aku mau jalan lagi ni”

Telfon pun dimatikan,dua menit aku menunggu terdengarlah bunyi kereta matik didepan rumah ku, aku sudah tau itu pasti siska yang datang, saat aku buka pintu darah ku langsung diubun ubun, ternyata yang bersamanya adalah dina, sungguh cantik mereka berdua dengan seragam sekolah transparan karena hujan, kupersilahkan mereka masuk dan memberikan handuk untuk mengeringkan badan, tak lama setelah mengelap rambut hape siska berbunyi, dan pergi kebelakang untuk menganngkatnya, dua menit aku menunggu dan dina masih aku abaikan dengan niat agar dianggap cool hehehe siska pun datang dengan terbirit birit,

“roy maaf ya, aku pulang duluan yah, papa aku pulang dari bukittinggi, papa terkurung diluar , orang gak ada dirumah, gak pa pa yah.”
“yaudah pulang terus, ntar kenapa napa boss mu lagi.”
“yah dina kek mana, kamu tolong anterin ya roy?”
“yaudah iya aman tu,”

Tak lama siska pergi aku ngajak dina ngobrol.
Kamu tinggal dimana?

“di panam roy”

Yaudah nantik aku anterin yah.

Nantik? Sekarang aja yah, nantik tetangga marah kita beduaan aja dirumah
Hahaha, santai aja pekanbaru ini surga kali din, tak ada yang bakal mengusik kita kok
Bener ni gak pa pa? tanya nya ragu ragu
Iya, nyantai nyantai aja dulu, sekalian hangatin badan, pasti kamu kedinginan, hehe
Iya dingin banget ni roy
Yaudah kamu duduk aja dulu di sofa, ntar biar aku yang hangatin, hehehe
Woo, ngawur aja kamu ni roy.
Hehe, becanda kok.

Tak bnyak yang kami lakukan dirumah, Cuma bercerita cerita tentang dina aja, ternyata dina pindah kesini karna ikut orang tua nya yang dipindah tugaskan, sekian banyak yang ceritakan, ngawur ngidul sampai dia sudah sangat nyaman disebelah ku orang yang baru dia kenal, setelah bosan kami lanjutkan dengan nonton tivi, tentunya selama berdua tak lupa ada coklat panas yang menemani kami.

Berjam jam sudah kami berdua, sampai lupa waktu yang sudah menunjukkan pukul enam sore, tapi kami tidak melakukan hal hal yang berbau seks, karna aku akan biarkan dia menganggap laki laki baik baik dan lebih sering kerumah ini, tit tit, bunyi klakson terdengar di depan rumah ku, sudah pasti itu orang tua ku, yang emang sudah jadwal pulang mereka.

Siapa tu roy?

“orang tua ku, biasa baru pulang dari toko” kata ku
“yah, terus aku kek mana nih”
Santai aja, mami papi aku orangnya baik kok
“yah, tapi kan aku segan, kita bedua aja dirumah”

Tanpa menjawab pertanyaan dina aku langsung membukakan pintu buat orang tua ku,
Roy, lampu depan kenapa gak dihidupin? Kata mami ku

“eh, iya mam, roy lupa, keasyikan cerita sama kawan baru roy mi”
“siapa kawan barunya?” sambil berjalan kedalam
“dina, namanya mi, anak pindahan dari Palembang, tadi dia kehujanan, minta tolong roy anterin pulang” sahutku
Tak berapa lama.
“oh ini yang namanya dina? Cantik ya, kek mana? Enak tinggal dipekanbaru?” sahut mai ku ramah.
“eh, iya tante” sambil menyalami kedua orang tua ku tentunya dengan gaya yang sangat kikuk
“ jangan panggil tante dong, panggil mami aja” hmm kayaknya mami ku menyukai dina ni pikerku.
“papi ke kamar dulu ya” kata papa ku memotong pembicaraan
“iya pi” kata dina makin kikuk dengan sapaan keluarga ku

Setengah jam kemudian, setelah mami menyiapkan makan malam, aku mengajak dina makan bareng keluarga ku, sikap dina yang sangat kikuk mulai terbiasa setelah berbicar hangat sama mami ku, yang mudah akrap sama orang, maklum, kedua orang tua ku pedagang, jadi mudah membaur. Tepat jam delapan malam dina ku antar pulang yang sudah ditelpon sama orang tuanyayang udah kecemasan anaknya belum pulang dari pagi, apalagi hari pertama dina sekolah disini. Untung saja mami ku berjiwa muda, dan berbicara dengan orang tua dina, sampai semuanya tenang tenang saja.

Diatas mobil, kami tak banyak bicara maklum dina masih kaget dengan pengalaman berkenalan dengan orang tua ku, yang aku bukan siapa siapanya, bahkan baru hari pertama kenalan.

Selanjutnya hari kujalani seperti biasa, tak ada yang berbeda sampai malam minggu, aku yang sedang ngumpul sama anak klub, diganggu dengan bunyi telpon. Telpon dari nomor baru.

“halo, siapa ni”
“dina roy, kamu lagi dimana?” sahutnya
“oh dina, lagi dijalan nangka ni, ada apa ?
“gak ada ada apa roy, besok kamu gak ada acarakan? Aku kerumah ya?” tanya nya

Aku kaget kata katayang keluar dari mulut, sebenarnya aku ada acara besok, tapi karna dina yang telpon, aku bilang gak ada aja.

“gak ada din, yaudah besok aku tunggu, jam berapa din?”
“jam delapan roy”

Gila ni cewek pikirku, perasaan aku masih tidur kalau jam segitu, apalagi hari minggu,

“iya din”

Setelah berbasa basi sedikit aku menutup telpon.

Ternyata malam minggu yang aku lalui ini adalah malam minggu yang panjang, bahkan aku begadang bersama kawan kawan sampai jam lima pagi, jam enam baru aku nyampe dirumah dan langsung tidur, aku tlah melupakan dina yang mau datang kesini, dalam enak tidur terasa ada tangan yang menyentuh bahu ku seraya memanggil.

“roy, roy, bangun roy”

Aku buka mata sedikit ternyata dina yang membangunkan, lalu aku tutup mata lagi dan berpaling membelakangi nya, dina tak menyerah membangunkan ku, sebenarnya aku sudah bangun, tapi pura pura aja lagi. Dalam pikiran sadar dan gak sadar aku punya rencana iseng, aku menggeser tubuhku menjauhi dina dan merapat kedidinding, dina yang gigih terpaksa naik ketempat tidur ku, semenit dia berusaha membangunkan ku, aku putar badan dan merangkul nya, hingga ikut tertidur, aku himpit badannya dengan pahaku, terasa wangi bahkan didit ku langsung nganceng dengan posisi seperti ini, aku masih berpura pura belu sadarkan diri, terdengar suara dina,

“roy, jangan kek gini dina malu” sambil berusaha melepaskan diri.

Tapi badan ku makin ku tempel dan kupeluk erat, makin lama terasa perlawanannya makin berkurang, mungkin dia berpikir ini bentuk reflek ku, berapa menit dalam pelukan ku, aku pun benar benar kembali tertidur aku tak tau mengapa, saat aku membuka mata aku masih melihat dina disamping ku yang ikut tertidur pula, tangan tepat diatas dadanya yang masih sangat kencang, lalu kulepas perlahan dan kuputar badan ku, ku lihat jam sudah menunjukkan jam sebelas siang, lalu aku segera mandi, dan berpakaian boxer dan kaos putih aja.

Setelah semua siap aku melihat dina yang benar tertidur diranjang ku, mungkin dia benaran mengantuk piker ku, ku perhatikan badannya dengan celana dasar laejing dan baju kira kira panjangnya sampe sedikit diatas lutut, seperti gaya gaya korea gitu, cukup cantik terlihat, kudekati dina, kuelus kepala dina dengan lembut, tak biasanya juga aku seperti ini, mungkin ini lah cinta yang dikatakan orang, seraya aku membangunkan dina,

“din dina bangun sayang” kata ku lembut, pokoknya sejak menit itu aku jadi laki laki yang sangat lembutlah, sangat berbeda dengan diriku diluar, sikap ku padanya sama seperti kepada kedua orang tua ku. Semenit kemudian dina pun terbangun,
“”roy nakal” dengan suara serak dan nada yang manja
“bangun e, dah siang ni sayang” suaraku berkata bagai aku tlah memilikinya
“aaa roy jahat” kata nya makin memelas, tapi terlihat sangat cantik

Aku elus kepalanya, dan tak ada tanda tanda larangan darinya, mungkin sudah terbawa suasana, yang nyaman dikamar ku dan bayangan tidur berdua tadi,

“roy udah mandi ya?’
“iya sayang, dah gantengkan, hheh? Kata ku sembarang
“hu uh,” sambil dia menganggukkan kepala.
“Yok bangun sayang”.

Dina malah menjawab,

“bangunin lah” katanya makin manja

Lalu kutatap matanya cukup lama, dia pun begitu, sudah habis piker ku, dan sudah gak tahan melihat tingkahnya barusan aku langsung nyosor mulutnya dengan lembut, awalnya tak ada balasan ciumannya dingin, Nampak kali belum pernah ciumannya, perlahan lahan kujulurkan lidahku masuk kemulutnya, beberapa saat dia belum bisa membalasnya, tapi pelan pelan lidah nya mulai menari mengikuti irama lidah ku, aku memang tak bergesa gesa aku biarkan dia terbiasa dengan ciuman yang dikatakan orang itu. Beberapa menit kami beciuman tanpa ada pergerakan dari tangan ku, sepertinya dina sangat menikmatinya. Setelah aku puas pemanasan aku hentikan semuanya,

“yok bangun, nantik lanjutin lagi” kata ku, akhirnya dia bangun dengan perasaan tidak puas, aku ajak dia kruang makan dan mengajak dia berbincang sambil makan.
“makan dulu kita, lapar kali ni ni, pasti kamu belum makan kan” kata ku
“iya roy” jawabnya singkat
“tadi kek mana kamu bisa masuk din?” tanya ku heran
“mami tadi belum pergi, lagi masak jadi dina bantuin bentar, pas mau berangkat disuruh mami bangunin roy” jawabnya
“owh, untunglah ada mami tadi ya kalau gak da siapa yang mau buka in pintu, hehe”
“roy sih, banguninnya susah kali, sampe dina ketiduran juga, hmm”

Beberapa menit terdiam

“roy, boleh ngomong sesuatu gak? Sanggahnya lagi
“ngomong aja terus”
“eh yang tadi tu ciuman pertama dina lo”
“owh, aku dah ttau kok”
“tau dari mana?” tanya nya heran
“Nampak kali gak pandenya,hheheh” ejek ku
“roy ni,,,,,,,” sambil mencubit lengan ku
“enakkan ciuman ku?”
“hu uh” angguk dina pelan
“ mau lagi gak?”
“dina malu e, apa kata orang nantik”
“hehee, habisin nasinya trus” jawab ku seperti gak mengharapkan kali, padhal aku sudah punya rencana dibenak, heheh

Selesai makan aku ajak dina nonton tivi, setengah jam nonton film twilight pikiran ku sudah gak karuan lagi, pikiran ku menghayal sampai kontol ku jadi ngaceng, kurangkul dina, dina diam aja, tangan kiriku memegang dagunya dan mengarahkan kepalanya kearah ku, belum sempat dina bertanya aku lanngsung melumat bibirnya, tak seperti tadi dina lebih pandai membalas ciuman ku, tiga menit berciuman tangan kiri ku mulai bergerilya mulai dari perutnya sampai kebuah dada nya, tapi timbul perlawanan dari dina, dina menggeser tangan ku, berulang kali kucoba meraba selalu gagal, kuturunkan ciuman ku keleher dina dan kujilati serta kuhisap sehingga meninggalkan bekas merah dilehernya, dari sini terlihat dini terangsang hebat setiap kali ku isap leher sebelah kirinya.

Tak ku siakan kesempatan ini, langsung ku remas susu dina, tak seperti tadi dina membiarkannya, bahkan terlihat dia terangsang hebat, mungkin karna baru pertama kali dipegang susunya sama laki laki, beberapa menit aku bermain dileher dan dadanya yang masih bersegel itu aku berusaha melepaskan bajunya, kutarik badan dina sampai berdiri, ini memungkin aku melucuti pakaiannya yang panjang didudukinya tadi, dengan sigap aku tarik keatas bajunya , dina terkejut, belum sempat dia bicara aku langsung melumat bibirnya dan merebahkannya di atas sofa, sebelum itu tangan ku berusaha melepas pengait bra nya, disela sela ciuman terdengar,

“roy engg, jangan lepas itu”

Kata katanya tak kuhiraukan, susu 34B terpampang didepanku aku langsung meremasnya dengan ganas, walau tangan dina berusaha melepaskan tapi perlahan perlawanannya melunak juga, ciuman ku turun ke leher terus kebuah dadanya kumainkan itilnya berulang kali kuhisap dan kujilat, dari sini lah mulai terdengar lenguhan dina,

“Ah ehmm roy jang”
“uch eh roy hmmmm”

Dina tampak jelas terangsang, tangan ku bergerilya terus sampai keselangkangannya, dimana dina makin mendesah hebat.

“Ach oh ah eh roy”

Sekian lama aku bermain seperti itu aku berusaha melucuti celananya yang berbahan spandek itu langsung dengan kolornya, disinilah terjadi perlawanan hebat dari dina, sambil berusah menarik kembali celananya yang sudah sampe selutut.

“roy jangaaan ahhhh”
“dina masih perawan roy, jangan buka” sambil menggelinjang hebat

Sepertinya dina sudah mendapatkan ingat nya lagi, yang tadi terbuai di awan, aku berusaha menenangkan dina sambil menghimpit tubuhnya,

“din, aku gak bakal lebih jauh kok, aku Cuma mau ciumin itu kamu, enak deh”
“gak roy, dina gak mau, toloooong”

Sepertinya dina tak mau ditenangkan lagi, dengan cepat aku turun kebawah tepat kepala ku didepan pepeknya, kujilati pepek tanpa bulu itu tanpa ampun, serta kedua tangan meremas buah dadanya sambil menahan badan dina supaya tidak berdiri,

“ahhh jangan, ampun roy jangann och” ceracau nya

Sungguh enak pepek dina sehingga aku tak mendengar kata katanya, tangan dina berusaha mendorong kepalaku tapi tanpa perubahan tetap kujilati dan kuhisap isap.

“roy, kamu apain punya dina ahc ohc”
“roy ach ehc ehhm hmmm”

Dina menutup matanya, sambil menggigit bibir bawahnya

“ahc roy”

Perlawanan dari dina melemah, yang tinggal Cuma desahannya, desah demi desahan

“Ahc hm roy ehh “

Kujilati hingga lima menit kedepan supaya dina bisa merasakan enaknya, badan dina langsung menegang dan menggeliat kiri kanan, sepertinya dina akan organism untuk yang pertama kali, langsung kulepas jilatku, tangan dina berusaha menahan kepala ku dan pinggul diangkatnya ke atas, tampak kekecewaan dimukanya, langsung kusodorkan kontol kemukanya,

“nantik aku janji aku melanjutkan jilatannya, tapi isap dulu ya din”
“dina gak bisa roy” jawab singkat
“buka aja mulut nantik aku ajarin deh, pokoknya enak”
Dina mau ngomong lagi aku langsung lesatkan konttol ku ke mulutnya, kupegang kepalanya aku maju mundurkan, nikmat sekali kadang sakit kenak giginya, maklum lah pemula heheh
“din jangan kena gigi dong”

10 menit dina nyepong kontol ku, aku udah gak tahan lagi, kupercepat gerakan tangan dikepalanya,

“ahhhhhhhhhhh” desah panjangku, lalu aku semprotkan sperma dimulutnya, kepala dina menggeleng ingin melepaskan, tapi aku tahan.
“telan aja din, nikmat kok”

Dengan susah payah dina menelannya, aku merasa lemas dan merbahkan badan dia atas badan,

“roy, dina gak bakal hamil kan? Tanya nya
“gak din, mana bisa hamil gara gara itu”
“dina pengen dijilat lagi roy”

Aku kaget mendengar ucapan nya

“ apa din?”

Walau sudah lemas. Aku langsung menepati janji ku untuk menjilati pepek dina lagi, tak seperti tadi, dina lebih menikmati rangsangannya dan mendesah hebat.

“ahc roy hmmmm enak”
“ohc ehhh enak roy, distu lamain roy, ahc”

5 menit sudah aku menjilati, badan dina mengejang lagi, inilah kesempatan kedua pikirku, kutarik kepala ku lagi,

“kok berhenti roy,?”
“ lanjutin roy” rengeknya lagi
“iya sabar, ini bakal lebih enak din.” Jawab ku sambil melucuti semua pakaian ku dan celana dina yang tak seutuhnya lepas, kontol ku sudah tegang habis, perlahan lahan kuarah kan kontol ku kepepek nya,
“mau apa roy? Tanya nya heran
“katanya mau dilanjutin, pake ini aja ya, capek jilat terus” seru ku

Dina ngangguk pelan, seperti rasa tanggung yang dideritanya membuat dia tidak sadar akan diperawani detik ini.

“tahan dikit ya din, agak sakit dikit, tapi bentar juga enak kok”
“iya roy” sambil memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya
Sangat susah memasukkannya, bahkan untuk memasukkan kepalanya saja butuh waktu tiga menit,
“ahc sakit roy”

Dengan tanpa perasaan kutekan kuat kontol ku dalam dalam, “ahccc ampun” seru dina, beberapa saat kudiamkan kontolku didalam pepek dina, supaya pepek bisa menerima kontol ini dengan baik, setelah itu aku gerakkan pelan maju mundur,

“ahc sakit roy”
“sayang, sebentar lagi juga enak kok” kataku untuk menenangkannya

Beberapa menit kemudian, rintihan dina berganti dengan desahan,

“gimana sayang? Tanya ku
“enak say ahc ohc”
“ahc terus roy”

Ahc eh oh hmmmm
Ohhhh royyy
Sepuluh menit ku pompa pepeknya, dina mengejang

“roy, jangan dilepas lagi ya oh eh” pintanya
“iya din, sama sama kita keluarin aku juga mau ahh“

Tak beberapa lama tersembur cairan hangat di kontol ku, dan aku balas cairan hangat itu dengan peju ku.

“ahcc roy nikmat sekali”

Kutarik kontol ku seiring dengan itu ikut keluar cairan yang bercampur darah dari pepek.

“makasih ya sayang” kata ku
“dina gak bakal hamil kan roy?
“gak kok, kan baru pertama kali sayang, tenang aja,”
“enak kan”
“iya roy”

Setelah itu kami mandi bersama dan ngentot lagi dikamar mandi, sehabis mandi kami tidur bersama dikamar ku, sampai pukul empat sore, saat terbangun kami main lagi, berarti tiga kali kami main sehari tu, mandi lagi, lalu kami pergi jalan jalan sore dengan mobil feroza ku, sambilmencari makan diluar, beberapa hari kemudian kami jadian, sepertinya aku benar benar jatuh cinta padanya, mendengar kami jadian, para pecun ku langsung memusuhinya bahkan teman pertamanya ikut memusuhinya, aku bilang untuk tidak terlalu mempedulikannya.



Sampe sekarang kami masih berpacaran, ntah sudah berapa kali melakukan hubungan seks, enam bulan pacaran baru aku berani mengakui kami pacaran pada orangtua, kedua orang tua merestui, jadi kami lebih mudah melakukan hubungan seks dimana kami sukai, baik dirumahnya maupun dirumahku, sekian cerita ku.

Posted by :



Agen Poker Indonesia - Pergaluanku dikota sungguh sangat bebas sekali, tapi sebagai wanita aku masih tetap berusaha menjaga kewanitaanku sebaik mungkin. Aku suka nongkrong, suka dugem, bahkan aku juga kadang merokok tapi aku sangat menjauhi yang namanya hubungan Sex.



Agen Poker Terpercaya - Sampai kisah ini aku tulis aku sudah tak bisa lagi menjaga kewanitaanku, bahkan semenjak kejadian pagi itu aku menjadi sorang wanita yang sangat haus dengan Sex. Aku merasakan tidak cukup jika aku Cuma disetubuhi satu laki-laki, aku baru merasa sangat puas jika aku disetubuhi 2 atau 3 laki-laki sekaligus. Entah apa yang membuatku bisa menjadi seperti ini. Ini ceritaku.

Perkenalkan namaku Nindy, aku mempunyai perawakan yang sangat menarik dibandingkan dengan teman-temanku. Dari semua sisi aku lebih unggul dari mereka semua, badanku yang langsing, buah dadaku yang sintal dan berukuran lumayan besar 34B, dan pantatku yang kata teman laki-laki ku sangat montok. Itu yang membuatku sangat percaya diri.

Aku dan Dua teman wanitaku namanya Tari dan Hilda dan 3 teman laki-laki ku namanya Nando,Raka dan Bima mempunyai rencana untuk ke villa ku yang ada dipuncak untuk sekedar refresing menghilangkan penat. Dan setelah hari dan jam disepakati akhirnya semua teman-temanku itu menuju kerumahku dan kita langsung berangkat kepuncak.

Sex Hot | Kira-kira 3 jam perjalanan akhirnya kita sampailah dipuncak. Kita langsung bisa menempati villa karena sehari sebelumnya kami sudah menyuruh penjaga untuk membersihkan seluruh ruangan Villa. Dan akhirnya kami langsung masuk dan memilih kamar masing-masing dan langsung rebahan karena sudah merasa capek dijalanan.

Setelah kurang lebih 30 menita kami istirahat masing-masing akhirnya kami semua berkumpul diruang tamu yang luas. Saat itu lah aku melihat Raka dan Hilda bermesraan, karena emang mereka berdua pacaran. Dan yang lain juga hanya memandinginya saja sambil kadang-kadang mengjeknya dengan yang mesum-mesum.

Timbullah rasa iri dalam hatiku melihat kemesraan Nando dan Hilda, tapi aku tahan rasa itu. Setelah santai-santai selesai akhirnya malam menjelang malam tiba, aku, Tari dan Hilda menyiapkan makan untuk makan nanti malam, sementara yang laki-laki menata-nata meja diluar Villa, biar suasana makan malam terasa romantis. Jam 7 tepat semua makanan dan tempat sudah tertata rapi akhirnya kita semua bersenang-senang serasa pesta kecil-kecilan.

Gurauan-gurauan terus keluar dari mulut kita, baik candaan yang menjorok tentang Sex, ataupun hal-hal mesum lainnya keluar dari kita semua karena kami semua sudah terbiasa dengan candaan yang seperti itu.

Tari dan Hilda sudah biasa melakukan hubungan Sex tapi kalau aku belum pernah sama sekali. Tapi aku juga sudah terbiasa karena aku sudah berteman dengan mereka lama sekali. Setelah malam itu selesai akhirnya kita menuju kamar.

Dalam suasana hening dan kegelapan malam aku mendengar suara desahan-desahan dari kamar raka, semakin lama semakin keras suaranya, dengan rasa penasaran aku langsung keluar untuk mengintipnya, dan yang kulihat ini sangatlah HOT, raka sedang menyetubuhi Hilda dengan buasnya. Raka memompa meki Hilda dengan sangat perkasa, sungguh yang aku lihat secara langsung ini membuat birahiku langsung meningkat. Tapi apa daya, aku hanya bisa melihat saja.

Malam itu aku jadi tidak bisa tidur gara-gara adegan Sex raka dan Hilda yang menurutku sangatlah HOT. Serasa aku juga ingin melakukannya, tapi itu hanya angan-angan saja. malam itu sungguh sunyi sekali, aku yang tidak bisa tidur hanya ditemani dengan desahan-desahan dari Hilda yang tubuhnya sedang dinikmati oleh Raka. Sampai aku terbangun keesokan harinya.

Jam 10.00 pagi harinya kami jalan-jalan menghirup udara puncak, sekalian membeli makanan dan cemilan sementara Tari dan Nando menunggu villa. Belum lagi 15 menit meninggalkan villa perutku tiba-tiba mulas, aku mencoba untuk bertahan, tidak berhasil, bergegas aku kembali ke villa.

Selesai dari kamar mandi aku mencari Tari dan Nando, rupanya mereka sedang di ruang TV dalam keadaan bugil. Lagi-lagi aku mendapat suguhan live show yang spektakuler. Tubuh Tari setengah melonjor di sofa dengan kaki menapak kelantai, Nando berlutut dilantai dengan badan berada diantara kedua kaki Tari, Mulutnya mengulum-ngulum kewanitaan Tari, tak lama kemudian Nando meletakan kedua tungkai kaki Tari dibahunya dan kembali menyantap segitiga venus yang semakin terpampang dimukanya. Tak ayal lagi Tari berkelojotan diperlakukan seperti itu.

“Sssssshh.. sshh.. aaaahh” desis Tari.
“Oouuuuhh.. Nan.. nikmat sekalii.. sayang”
“Gigit.. Nan.. pleasee.. gigitt”
“Auuuuuwww.. pelan sayang gigitnyaa”

Melengkapi kenikmatan yang sedang melanda dirinya satu tangan Tari mencengkram kepala Nando, tangan lainnya meremas-remas payudara 36B nya sendiri serta memilin putingnya. Beberapa saat kemudian mereka berganti posisi, Tari yang berlutut di lantai, mulutnya mengulum Penis Nando, kepalanya turun naik, tangannya mengocok-ngocok batang kenikmatan itu, sekali-kali dijilatnya bagai menikmati es krim. Setiap gerakan kepala Tari sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa bagi Nando.

“Aaaaaahh.. aauuuuugghh.. teruss sayangg” desah Nando.
“Ohh.. sayangg.. enakk sekalii”

Suara desahan dan erangan membuat Tari tambah bernafsu melumat Penis Nando.

“Ohh.. Tarii.. ngga tahann.. masukin sayangg” pinta Nando.

Tari menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut disofa dengan pinggul Nando berada diantara pahanya, tangannya menggapai batang kenikmatan Nando, diarahkan kemulut kewanitaannya dan dibenamkan. “Aaagghh” keduanya melenguh panjang merasakan kenikmatan gesekan pada bagian sensitif mereka masing-masing. Dengan kedua tangan berpangku pada pahanya Tari mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja Nando mengeliat-geliat merasakan batangnya diurut-urut oleh kewanitaan Tari.

Sebaliknya, milik Nando yang menegang keras dirasakan oleh Tari mengoyak-ngoyak dinding dan lorong kenikmatannya. Suara desahan, desisan dan lenguhan saling bersaut manakala kedua insan itu sedang dirasuk kenikmatan duniawi.

Tontonan itu membuat aku tidak dapat menahan keinginanku untuk meraba-raba sekujur tubuhku, rasa gatal begitu merasuk kedalam kemaluanku. Kutinggalkan live show bergegas menuju kamar, kulampiaskan birahiku dengan mengesek-gesekan bantal di kewanitaanku. Merasa tidak puas kusingkap rok miniku, kuselipkan tanganku kedalam celana dalamku membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan kewanitaanku dan.. akhirnya menyentuh klitorisku.

“Aaahh.. sshh.. eehh” desahku merasakan nikmatnya elusan-elusanku sendiri, jariku merayap tak terkendali ke bibir kemaluanku, membuka belahannya dan bermain-main ditempat yang mulai basah dengan cairan pelancar, manakala kenikmatan semakin membalut diriku tiba-tiba pintu terbuka.. Tari! masih dengan pakaian kusut menerobos masuk, untung aku masih memeluk bantal, sehingga kegiatan tanganku tidak terlihat olehnya.

“Ehh Nin.. kok ada disini, bukannya tadi ikut yang lain?” sapa Tari terkejut.
“Iya Tar.. balik lagi.. perut mules”
“Aku suruh Nando beli obat ya”
“Ngga usah Si.. udah baikan kok”
“Yakin Nin?”
“Iya ngga apa-apa kok” jawabku meyakinkan Tari yang kemudian kembali ke ruang tengah setelah mengambil yang dibutuhkannya. Sirna sudah birahiku karena rasa kaget.

Malam harinya selesai makan kami semua berkumpul diruang tengah, Bima langsung memutar VCD X-2. Adegan demi adegan di film mempengaruhi kami, terutama kawan-kawan pria, mereka kelihatan gelisah. Film masih setengah main Tari dan Nando menghilang, tak lama kemudian disusul oleh Andra dan Vito. Tinggal aku, Raka dan Bima, kami duduk dilantai bersandar pada sofa, aku di tengah.

Melihat adegan film yang bertambah panas membuat birahiku terusik. Rasa gatal menyeruak dikewanitaanku mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik berlalu semakin memuncak saja, aku jadi salah tingkah. Raka yang pertama melihat kegelisahanku.

“Kenapa Nin, gelisah banget horny ya” tegurnya bercanda.
“Ngga lagi, ngaco kamu Rak” sanggahku.
“Kalau horny bilang aja Nin.. hehehe.. kan ada kita-kita” Bima menimpali.
“Rese nih berdua, nonton aja tuh” sanggahku lagi menahan malu.

Raka tidak begitu saja menerima sanggahanku, diantara kami ia paling tinggi jam terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang aku rasakan. Raka tidak menyia-nyiakannya, bahuku dipeluknya seperti biasa ia lakukan, seakan tanpa tendensi apa-apa.

“Santai Nin, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal” bisik Raka sambil meremas pundakku.

Remasan dan terpaan nafas Raka saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuhku meremang, tanpa terasa tanganku meremas ujung rok. Raka menarik tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tanganku jadi meremas pahanya.

“Remas aja paha aku Nin daripada rok” bisik Raka lagi.

Kalau sedang bercanda jangankan paha, pantatnya yang geboy saja kadang aku remas tanpa rasa apapun, kali ini merasakan paha Raka dalam remasanku membuat darahku berdesir keras.

“Ngga usah malu Nin, santai aja” lanjutnya lagi.

Entah karena bujukannya atau aku sendiri yang menginginkan, tidak jelas, yang pasti tanganku tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan yang wow kuremas pahanya. Merasa mendapat angin, Raka melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas pahaku, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuatku merinding.

Entah bagaimana mulainya tanpa kusadari tangan Raka sudah berada dipaha dalamku, tangannya mengelus-elus dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuatku membiarkan kenakalan tangan Raka yang semakin menjadi-jadi.

“Nin gue suka deh liat leher sama pundak kamu” bisik Raka seraya mengecup pundakku.

Aku yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu.

“Jangan Rak” namun aku berusaha menolak.
“Kenapa Nin, cuma pundak aja kan” tanpa perduli penolakanku Raka tetap saja mengecup, bahkan semakin naik keleher, disini aku tidak lagi berusaha jaim.
“Rak.. ahh” desahku tak tertahan lagi.
“Enjoy aja Nin” bisik Raka lagi, sambil mengecup dan menjilat daun telingaku.
“Ohh Rak” aku sudah tidak mampu lagi menahan, semua rasa yang terpendam sejak melihat live show dan film, perlahan merayapi lagi tubuhku.

Aku hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut Raka di leher dan telingaku. Bima yang sedari tadi asik nonRak melihatku seperti itu tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melakukan hal yang sama. Pundak, leher dan telinga sebelah kiriku jadi sasaran mulutnya. Melihat aku sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Raka semakin naik hingga akhirnya menyentuh kewanitaanku yang masih terbalut celana dalam. Elusan-elusan di kewanitaanku, remasan Bima di payudaraku dan kehangatan mulut mereka dileherku membuat magma birahiku menggelegak sejadi-jadinya.

“Agghh.. Rak.. Bim.. ohh.. sshh” desahanku bertambah keras.

Bima menyingkap tang-top dan braku bukit kenyal 34B ku menyembul, langsung dilahapnya dengan rakus. Raka juga beraksi memasukan tangannya kedalam celana dalam meraba-raba kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan pelicin. Aku jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuhku bergelinjang keras.

“Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh” desahanku berganti menjadi erangan-erangan.

Mereka melucuti seluruh penutup tubuhku, tubuh polosku dibaringkan dilantai beralas karpet dan mereka pun kembali menjarahnya. Bima melumat bibirku dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutku, lidah kami saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya. Sementara Raka menjilat-jilat pahaku lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di kewanitaanku, lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisku, bersamaan dengan itu Bima pun sudah melumat payudaraku, putingku yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.

Diperlakukan seperti itu membuatku kehilangan kesadaran, tubuhku bagai terbang diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Bahkan aku mulai berani punggung Bima kuremas-remas, kujambak rambutnya dan merengek-rengek meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya.

“Aaahh.. Raak.. Bim.. teruss.. sshh.. enakk sekalii”
“Nikmatin Nin.. nanti bakal lebih lagi” bisik Bima seraya menjilat dalam-dalam telingaku.

Mendengar kata lebih lagi aku seperti tersihir, menjadi hiperaktif pinggul kuangkat-angkat, ingin Raka melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya kewanitaanku dengan menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairanku. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang, kupeluk Bima-yang sedang menikmati puting susu-dengan kuatnya.

“Aaagghh.. Rakn.. Bim.. akuu.. oohh” jeritku keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam kewanitaanku. Tubuhku melemas.. lungai.

Raka dan Bima menyudahi hidangan pembukanya, dibiarkan tubuhku beristirahat dalam kepolosan, sambil memejamkan mata kuingat-ingat apa yang baru saja kualami. Permainan Bima di payudara dan Raka di kewanitaanku yang menyebarkan kenikmatan yang belum pernah kualami sebelumnya, dan hal itu telah kembali menimbulkan getar-getar birahi diseluruh tubuhku.

Aku semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba kurasakan hembusan nafas ditelingaku dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah.. Ahh.. bibir dan lidah Bima mulai lagi, tapi kali ini tubuhku seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata Bima sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Begitupun Raka sudah bugil, ia membuka kedua pahaku lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.

Mataku terpejam, aku sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuhku sebagai hidangan utama. Ada rasa kuatir dan takut tapi juga menantikan kelanjutannya dengan berdebar. Begitu kurasakan mulut Raka yang berpengalaman mulai beraksi.. hilang sudah rasa kekuatiran dan ketakutanku. Gairahku bangkit merasakan lidah Raka menjalar dibibir kemaluanku, ditambah lagi Bima yang dengan lahapnya menghisap-hisap putingku membuat tubuhku mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuhku.

“Aaahh.. Raak.. Bim.. nngghh.. aaghh” rintihku tak tertahankan lagi.

Raka kemudian mengganjal pinggulku dengan bantal sofa sehingga pantatku menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluanku. Kali ini ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang kenikmatanku, bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus, seluruh tubuhku bagai tersengat aliran listrik aku hilang kendali.

Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu kurasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibirku.. Penis Bima! Aku mengeleng-gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Bima tidak menggubrisnya ia malah manahan kepalaku dengan tangannya agar tidak bergerak.

“Jilat.. Nin” perintahnya tegas.

Aku tidak lagi bisa menolak, kujilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, Bima mendesah-desah merasakan jilatanku.

“Aaahh.. Niiin.. jilat terus.. nngghh” desah Bima.
“Jilat kepalanya Nin” aku menuruti permintaannya yang tak mungkin kutolak.

Lama kelamaan aku mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya menjilat-jilat batang penis itu, lidahku berputar dikepala kemaluannya membuat Bima mendesis desis.

“Ssshh.. nikmat sekali Nin.. isep sayangg.. isep” pintanya diselah-selah desisannya.

Aku tak tahu harus berbuat bagaimana, kuikuti saja apa yg pernah kulihat di film, kepala Penisnya pertama-tama kumasukan kedalam mulut, Bima meringis.

“Jangan pake gigi Nin.. isep aja” protesnya, kucoba lagi, kali ini Bima mendesis nikmat.
“Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Nin”

Melihat Bima saat itu membuatku turut larut dalam kenikmatannya, apalagi ketika sebagian Penisnya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutku, belum lagi kenakalan lidah Raka yang tiada henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluanku. Aku semakin terombang-ambing dalam gelombang samudra birahi yang melanda tubuhku, aku bahkan tidak malu lagi mengocok-ngocok Penis Bima yang separuhnya berada dalam mulutku.

Beberapa saat kemudian Bima mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kemaluannya, tanganku tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulutku. Aku menjadi gelagapan, ku geleng-gelengkan kepalaku hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepalaku membuat kemaluannya seperti dikocok-kocok. Bima bertambah beringas mengeluar-masukan Penisnya dan.

“Aaagghh.. nikmatt.. Ninr.. aku.. kkeelluaarr” jerit Bima, air maninya menyembur-nyembur keras didalam mulutku membuatku tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokanku sebagian lagi tercecer keluar dari mulutku.

Aku sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulutku. Raka tidak kuhiraukan aku langsung duduk bersandar menutup dadaku dengan bantal sofa.

“Gila Bima.. kira-kira dong” celetukku sambil bersungut-sungut.
“Sorry Nin.. ngga tahan.. abis isepan kamu enak banget” jawab Bima dengan tersenyum.
“Udah Nin jangan marah, kamu masih baru nanti lama lama juga bakal suka” sela Raka seraya mengambilkan aku minum dan membersihkan sisa air mani dari mulutku.

Raka benar, aku sebenarnya tadi menikmati sekali, apalagi melihat mimik Bima saat akan keluar hanya saja semburannya yang membuatku kaget. Raka membujuk dan memelukku dengan lembut sehingga kekesalanku segera surut. Dikecupnya keningku, hidungku dan bibirku. Kelembutan perlakuannya membuatku lupa dengan kejadian tadi.

Kecupan dibibir berubah menjadi lumatan-lumatan yang semakin memanas kami pun saling memagut, lidah Raka menerobos mulutku meliuk-liuk bagai ular, aku terpancing untuk membalasnya. Ohh.. sungguh luar biasa permainan lidahnya, leher dan telingaku kembali menjadi sasarannya membuatku sulit menahan desahan-desahan kenikmatan yang begitu saja meluncur keluar dari mulutku.

Raka merebahkan tubuhku kembali dilantai beralas karpet, kali ini dadaku dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiriku tangannya melesat turun ke kewanitaanku, dielus-elusnya kelentit dan bibir kemaluanku. Tubuhku langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari Raka.

“Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh” desisku tak tertahan.
“Teruss.. Rakn.. aakkhh”

Aku menjadi lebih menggila waktu Raka mulai memainkan lagi lidahnya di kemaluanku, seakan kurang lengkap kenikmatan yang kurasakan, kedua tanganku meremas-remas payudaraku sendiri.

“Ssshh.. nikmat Raak.. mmpphh” desahanku semakin menjadi-jadi.

Tak lama kemudian Raka merayap naik keatas tubuhku, aku berdebar menanti apa yang akan terjadi. Raka membuka lebih lebar kedua kakiku, dan kemudian kurasakan ujung Penisnya menyentuh mulut kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan cinta.
“Aauugghh.. Raak.. pelann” jeritku lirih, saat kepala Penisnya melesak masuk kedalam rongga kemaluanku.

Cerita Sex Nafsu Birahiku Yang Menggila – Raka menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam kehangatan liang kewanitaanku. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu yang aneh segera saja menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuhku. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuhku membuat pinggulku mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukan Raka.

“Ooohh.. Raak.. sshh.. aahh.. enakk Raak” desahku lirih.

Aku benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di mulut kewanitaanku. Mataku terpejam-pejam kadang kugigit bibir bawahku seraya mendesis.

“Enak.. Nin” tanya Raka berbisik.
“He ehh Raak.. oohh enakk.. Raak.. sshh”
“Nikmatin Nin.. nanti lebih enak lagi” bisiknya lagi.
“Ooohh.. Raaak.. ngghh”

Raka terus mengayunkan pinggulnya turun-naik-tetap sebatas ujung Penisnya-dengan ritme yang semakin cepat. Selagi aku terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba Raka menekan Penisnya lebih dalam membelah kewanitaanku.

“Auuhh.. sakitt Raaak” jeritku saat Penisnya merobek selaput daraku, rasanya seperti tersayat silet, Raka menghentikan tekanannya.
“Pertama sedikit sakit Nin.. nanti juga hilang kok sakitnya” bisik Raka seraya menjilat dan menghisap telingaku.

Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti aku mulai merasakan nikmatnya milik Raka yang keras dan hangat didalam rongga kemaluanku. Raka kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh Penisnya dan mengeluar-masukannya. Gesekan Penisnya dirongga kewanitaanku menimbulkan sensasi yang luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuatku menggelepar-gelepar.

“Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk Raak.. empphh” desahku tak tertahan.
“Ohh.. Niin.. enak banget punya kamu.. oohh” puji Raka diantara lenguhannya.
“Agghh.. terus Raak.. teruss” aku meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman Penis Raka di kemaluanku.

Peluh-peluh birahi mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan kami. Menit demi menit Penis Raka menebar kenikmatan ditubuhku. Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuhku tak lagi mampu menahan letupannya.

“Rakaa.. oohh.. tekan Raak.. agghh.. nikmat sekali Raak” jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulutku.

Tubuhku mengejang, kupeluk Raka erat-erat, magma birahiku meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung kewanitaanku.

Tubuhku terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian Raka mulai lagi memacu gairahku, hisapan dan remasan didadaku serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahiku. Lagi-lagi tubuhku dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuhku dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda.

Entah berapa kali kewanitaanku berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi Raka sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuhku. Selagi posisiku di atas Raka, Bima yang sedari tadi hanya menonRak serta merta menghampiri kami, dengan berlutut ia memelukku dari belakang. Leherku dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dadaku. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diklitorisku membuatku menjadi tambah meradang.

Kutengadahkan kepalaku bersandar pada pundak Bima, mulutku yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumatnya. Pagutan Bima kubalas, kami saling melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggulku semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Aku begitu menginginkan Penis Raka mengaduk-aduk seluruh isi rongga kewanitaanku yang meminta lebih dan lebih lagi.

“Aaargghh.. Niiin.. enak banget.. terus Nin.. goyang terus” erang Raka.

Erangan Raka membuat gejolak birahiku semakin menjadi-jadi, kuremas buah dadaku sendiri yang ditinggalkan tangan Bima.. Ohh aku sungguh menikmati semua ini. Bima yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Raka duduk disofa dengan kaki menjulur dilantai, Akupun merangkak kearah batang kemaluannya.

“Isep Nin” pinta Raka, segera kulumat Penisnya dengan rakus.
“Ooohh.. enak Niiiin.. isep terus”

Bersamaan dengan itu kurasakan Bima menggesek-gesek bibir kemaluanku dengan kepala Penisnya. Tubuhku bergetar hebat, saat batang kemaluan Bima-yang satu setengah kali lebih besar dari milik Raka-dengan perlahan menyeruak menembus bibir kemaluanku dan terbenam didalamnya.

Tusukan-tusukan Penis Bima serasa membakar tubuh, birahiku kembali menggeliat keras. Aku menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua batang Penis didalam tubuhku. Batang kemaluan Raka kulumat dengan sangat bernafsu. Kesadaranku hilang sudah naluriku yang menuntun melakukan semua itu.

“Niiin.. terus Niiin.. gue ngga tahan lagi.. Aaarrgghh” erang Raka.

Aku tahu Raka akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya dimulutku, aku lebih siap kali ini. Selang berapa saat kurasakan semburan-semburan hangat sperma Raka.

“Aaagghh.. nikmat banget Niiin.. isep teruss.. telan Niiin” jerit Raka, lagi-lagi naluriku menuntun agar aku mengikuti permintaan Raka, kuhisap Penisya yang menyemburkan cairan hangat dan.. kutelan cairan itu.

Aneh! Entah karena rasanya, atau sensasi sexual karena melihat Raka yang mencapai klimaks, yang pasti aku sangat menyukai cairan itu. Kulumat terus itu hingga tetes terakhir dan benda keras itu mengecil.. lemas.

Raka beranjak meninggalkan aku dan Bima, sepeninggal Raka aku merasa ada yang kurang. Ahh.. ternyata dikerjai dua pria jauh lebih mengasikkan buatku. Namun hujaman-hujaman kemaluan Bima yang begitu bernafsu dalam posisi doggy style dapat membuatku kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan Ibu jarinya dianusku. Bukan hanya itu, setelah diludahi Bima bahkan memasukan Ibu jarinya ke lubang anusku. Sodokan-sodokan dikewanitaanku dan Ibu jarinya dilubang anus membuatku mengerang-erang.

“Ssshh.. engghh.. yang keras Bim.. mmpphh”
“Enak banget Bim.. aahh.. oohh”

Mendengar eranganku Bima tambah bersemangat menggedor kedua lubangku, Ibu jarinya kurasakan tambah dalam menembus anusku, membuatku tambah lupa daratan. Sedang asiknya menikmati, Bima mencabut Penis dan Ibu jarinya.

“Bimaaa.. kenapa dicabutt” protesku.
“Masukin lagi Biiim.. pleasee” pintaku menghiba.

Sebagai jawaban aku hanya merasakan ludah Bima berceceran di lubang anusku, tapi kali ini lebih banyak. Aku masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya. Saat Andi mulai menggosok kepala penisnya dilubang anus baru aku sadar apa yang akan dilakukannya.

“Bimaa.. pleasee.. jangan disitu” aku menghiba meminta Bima jangan melakukannya.

Bima tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli enak kala ia melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya dikemaluanku hilang sudah protesku. Tiba-tiba kurasakan kepala kemaluannya sudah menembus anusku. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang kenikmatannya membelah anusku dan tenggelam habis didalamnya.

“Aduhh sakitt Bim.. akhh..!” keluhku pasrah karena rasanya mustahil menghentikan Bima.
“Rileks Niiin.. seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya” bujuknya seraya mencium punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus klitorisku.

Separuh tubuhku yang tengkurap disofa sedikit membantuku, dengan begitu memudahkan aku untuk mencengram dan mengigit bantal sofa untuk mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, aku bahkan mulai menyukai batang keras Bima yang menyodok-nyodok anusku. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuhku.

“Aaahh.. aauuhh.. oohh Bim” erang-erangan birahiku mewarnai setiap sodokan penis Bima yang besar itu.

Bima dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras Bima menghujamkan Penisya semakin aku terbuai dalam kenikmatan.

Raka yang sudah pulih dari istirahatnya tidak ingin hanya menonRak, ia kembali bergabung. Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikan tensi gairahku. Atas inisiatif Raka kami pindah kekamar tidur, jantungku berdebar-debar menanti permainan mereka. Raka merebahkan diri terlentang ditempat tidur dengan kepala beralas bantal, tubuhku ditarik menindihinya.

Sambil melumat mulutku-yang segera kubalas dengan bernafsu-ia membuka lebar kedua pahaku dan langsung menancapkan kemaluannya kedalam vaginaku. Bima yang berada dibelakang membuka belahan pantatku dan meludahi lubang anusku. Menyadari apa yang akan mereka lakukan menimbulkan getaran birahi yang tak terkendali ditubuhku. Sensasi sexual yang luar bisa hebat kurasakan saat Penis mereka yang keras mengaduk-aduk rongga kewanitaan dan anusku. Hentakan-hentakan milik mereka dikedua lubangku memberi kenikmatan yang tak terperikan.

Bima yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi tiduran, tubuhku terlentang diatasnya, Penisnya tetap berada didalam anusku. Raka langsung membuka lebar-lebar kakiku dan menghujamkan Penisnya dikemaluanku yang terpampang menganga. Posisi ini membuatku semakin menggila, karena bukan hanya kedua lubangku yang digarap mereka tapi juga payudaraku.

Bima dengan mudahnya memagut leherku dan satu tangannya meremas buah dadaku, Raka melengkapinya dengan menghisap puting buah dadaku satunya. Aku sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuhku. Hantaman-hantaman Raka yang semakin buas dibarengi sodokan Bima, sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu didalam kewanitaanku akan meledak, keliaranku menjadi-jadi.

“Aaagghh.. ouuhh.. Raaak.. Bim.. tekaann” jerit dan erangku tak karuan.

Cerita Sex Nafsu Birahiku Yang Menggila – Dan tak berapa lama kemudian tubuhku serasa melayang, kucengram pinggul Raka kuat-kuat, kutarik agar batangnya menghujam keras dikemaluanku, seketika semuanya menjadi gelap pekat. Jeritanku, lenguhan dan erangan mereka menjadi satu.

“Aduuhh.. Raaak.. Bim.. nikmat sekalii”
“Aaarrghh.. Niiin.. enakk bangeett”

Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir bersamaan dikedua lubangku. Tubuhku bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuhku mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan dikewanitaanku dan akhirnya kami.. terkulai lemas.

Sepanjang malam tak henti-hentinya kami mengayuh kenikmatan demi kenikmatan sampai akhirnya tubuh kami tidak lagi mampu mendayung. Kami terhempas kedalam mimpi dengan senyum kepuasan. Dihari-hari berikutnya bukan hanya Bima dan Raka yang memberikan kepuasan, tapi juga pria-pria lain yang aku sukai.

Tapi aku tidak pernah bisa meraih kenikmatan bila hanya dengan satu pria.. aku baru akan mencapai kepuasan bila dijarah oleh dua atau tiga pria sekaligus. 

Posted by :

Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home